come on… just put a spell on me!

August 5th, 2007 by inacoffee

aFter the election, we’re gonna have a little fun… plus a little sad-feeling… plus a little disstress…

Okay… i just checked my cell’s inbox… one of them is about the LPJ-LBR-things… i didn’t have enough ‘esia talk time’ to call him… so i decided to wait for his call… i’m not gonna sleep early… i wish i could… but i have to do something, my assignment… and my speech for nederlands course tomorow!

But actually something has to be done… which is my rmi-dicom-thing. Still waiting for my friend to teach me about this… cause i’m desperately not in a mood for this…

okay… this week is so damn great week, after the election which is not really election… (cause we decided to have one candidate) we have a new "KAHIMP" for the next period, and we’re gonna have an event for the freshmen which is PMB… and there will be another event that i’m gonna miss but cause i have to be in another place… leave this Jakarta-sin-city (where i can find 24 hours minimart and 24 hours coffee shop and 24 hours party people and 24 hours people pray… such an irony!)…

okay… just put a spell on me so that i’ll be hipnotized to past the next to years in dutch… i think it canbe easier… hehe’… just put a spell on me so i can have kinda amnesia or something like losing my short term memory… haha’ so it can be easier to live my next two years without friends like you…( it’s for you… 2004!)…  cause you know… i’m glad to be in class with all of you… and i thank God for giving me such a great friends…

Just don’t put any spells on me so i will keep a lot of capture of friends in my brain…! Just don’t put any spells so i can reach all of you in my mind!

You know…  to feel losing somebody is kinda proof that i’m still part of this human being… i’m glad to have that feeling… cause i will know that i’m part of this human interaction… like go go dools said in IRIS "when everything seems like a movie… yeah you bleed just to know you’re alive!"

… well, i don’t have to bleed… just lose something… like i lost someone two years ago… then the spot has been replaced though actually there will be no real replacement cause it was no replacement cause i never compare anything,… but this is just the best thing in life… i just lost something that i can’t replace. Everything seems like a movie in last 3 years…

What’s happiness to you? Uuuhhmmm… feeling like the real human in the world such a serial drama,  i think!

I still have more 3 weeks here to enjoy everything especially to enjoy my assignment!!! OKAY… MAYBE WE NEED A SPELL… MAYBE NOT… DEPENDS ON HOW HARD LIFE CAN BE, OR WHAT KIND OF SERIAL DRAMA WE LIVE!  don’t be such an idiot… better feel the earth move than unconsiously wake up in the end of storm!

—puh… sometimes we just need to write something…!

about strange and beautiful’s aqualung….

August 1st, 2007 by inacoffee

I made this post when the dvd player "kapot",,,, (still learning to speak nederlands well…)

I made a post about aqualung lyrics in previous post. Gue menyebutnya awesome karena sangat desperately berharap…

and it is said

"i put a spell on you… you’ll fall asleep, i’ll put a spell on you… and when i wake you i’ll be the first one you see and you’ll realize that you love me…"

…yang menggambarkan perfectly desperate, sampe harus put a spell on her… he can only watch her world from afar… he’s been trying huhuhuhu sedih! great song!!!!

jadi pengen nonton wickerpark…

STRANGE AND BEAUTIFUL

July 31st, 2007 by inacoffee

I’ve been watching your world from afar,
I’ve been trying to be where you are,
And I’ve been secretly falling apart,
Unseen.
To me, you’re strange and you’re beautiful,
You’d be so perfect with me but you just can’t see,
You turn every head but you don’t see me.

I’ll put a spell on you,
You’ll fall asleep and I’ll put a spell on you.
And when I wake you,
I’ll be the first thing you see,
And you’ll realise that you love me.

Yeah…
Yeah…

Sometimes, the last thing you want comes in first,
Sometimes, the first thing you want never comes,
And I know, the waiting is all you can do,
Sometimes…

I’ll put a spell on you,
You’ll fall asleep,
I’ll put a spell on you,
And when I wake you,
I’ll be the first thing you see,
And you’ll realise that you love me.

I’ll put a spell on you,
You’ll fall asleep ‘cos I’ll put a spell on you,
And when I wake you,
I’ll be the first thing you see,
And you’ll realise that you love me, yeah…

yeah…
yeah…
yeah…
yeah…

July 24th, 2007 by inacoffee

Three

Menurut Arian, existensi Raiya di muka bumi ini adalah untuk dihormati seperti perempuan terhormat. Don’t even think to touch her

…itu kalo nggak mau Arian ngamuk.

He never let somebody close to his girl!


Arian and Fina

            “Arian, wake up!” Fina membangunkan Arian dengan cara menampar pipinya. Setengah menjerit, dan khawatir kukunya patah karena terkena tulang rahang abang sepupunya. Untungnya tidak, jadi ia tidak perlu ke The Rums, her nail’s favourite place.

            “…apaaan sih lo!” Arian setengah sadar, masih nggak berasa. Ia berubah posisi dari posisi telentang jadi telungkup dengan muka menghadap ke kiri. Separuh mukanya tertutup bantal. Tamparan Fina tidak akan membuat Arian terbangun. Fina mungkin lupa kalo Arian sejak kecil latihan bela diri, ditambah selalu work out yang bikin badannya tambah jadi. Tinggi tegap, kayak anak-anak akpol. He’s really a man. Nggak heran banyak cewek ngantri buat dia. Arian, buat para cewek, masuk dalam kategori ‘Almost Perfect’. Muka ganteng, badan bagus, tajir, supel, dan socialite’.

            “Abanglo dating… wouldn’t you like to say something to him?” Tanya Fina.

            “Fina… gue baru tidur…!” Arian menutup mukanya dengan bantal. Dia emang keliatan nggak peduli banget sama kedatangan abangnya yang baru kelar S1 Hukum di belanda. Mulia Amaruli lagi senang bangga-banggain dia karena ternyata ada juga salah satu anaknya yang bisa sarjana, karena Arian lama belom kelar juga kuliahnya dan keseringan buang duit bokapnya.

            “Jam dua belas, Arian!” Kata Fina. “Papa nunggu lo makan siang di bawah!”

            “Bilang gue sakit, Fin. Ntar sore gue harus ke kampus, ada kuliah jam 3. Please don’t bother me!” Kata Arian yang maksa Fina bohong.

            Fina menyerah dan turun dari kasur Arian.

            Kemudian belum sempat Fina keluar dari kamar Arian, telepon genggam Arian bunyi. Arian hapal ringtone Raiya, yaitu potongan hoppipolla-nya sigur ros. Fina masih menatapi Arian dari ujung tempat tidurnya.

            

            “Arian…”

            “Rai…”

            “Kamu tidur jam berapa?”

            “Baru jam 9 tadi… aku bikin RTI… kamu di mana?”

            “Aku di kampus. Udah makan?” Tanya Raiya.

            “I just need some sleep, hon!”

            “Rian… please!”

            “Iya… iya…nanti aku makan. Kamu udah mau pulang?” Tanya Arian.

            “Aku masih sampe sore. Kamu kuliah

kan

?”

            “Iya jam 3. Would you…”

            “Iya aku tungguin kamu, aku selesai jam empat.”

            Arian menguap. “I’ll drive you home, Rai.” Kata Arian. “Abang aku yang kuliah di Belanda hari ini pulang, kapan-kapan kamu main ke rumah ya, Rai. Aku pengennya kamu kenal sama papa, sama abang aku… jangan Cuma Fina doing.”

            Raiya tersenyum. “Iya… Tapi jangan mendadak ya…”

            “Iya kamu tenang aja…”

            Fina Cuma geleng-geleng kepala ngeliat abangnya yang mulai aneh. Jelas Cuma Raiya yang bisa membangunkannya dari tempat tidur ini dan jadi obat sakit kepalanya di kala kirang tidur.

            Mungkin saja Arian males ketemu abangnya. Mereka berdua memang nggak pernah dekat walaupun keluarga Mulia Amaruli isinya laki-laki semua. Cerita kelam masa lalu tentang perempuan membuat rumah mereka tidak lagi hangat. Ibu dua anak Mulia Amaruli, sekaligus istri Mulia Amaruli yang sangat disayanginya pergi meninggalkan rumah dan pergi bersama rekan bisnis Mulia.

            Tiga laki-laki ini sangat terpukul dengan kenyataan tersebut. Arian berpencar dengan abangnya karena abangnya lebih suka tinggal di luar negri. Ia tidak suka berada di satu Negara dengan ibunya. Arian tidak pernah mempercayai hidupnya pada satu perempuan. Mulia Amaruli menjadi sangat workaholic sampe harus mempunyai seorang kepercayaan yang mengurus keluarganya yaitu Alex yang bisa dibilang asisten pribadinya.

            Untungnya, Fina menjadi satu-satunya Amaruli perempuan yang tinggal di rumahnya. Ia memutuskan untuk kuliah di Jakarta bergabung dengan Arian berhubung Fina anak tunggal yang merindukan sosok kakak cowok seperti Arian. Ia adalah warna penceria di rumah, dengan ketukan stiletto-nya yang diakui Arian lebih dirindukan dibanding solo gitar di Paranoid Android, ringtone Paris Hilton di handphonenya, cat warna pink kamarnya, dan bahan obrolan ringan makan malam yang selalu keluar dari mulutnya, menemani Mulia ketika Arian seringkali tidak di rumah.

            Hidup itu penuh liku, sehingga ada bagian yang tertinggal di setiap lika-likunya, entah karena tidak sanggup menyamakan ritme langkahnya, atau memilih liku lainnya. Mulia pernah berpisah dengan istrinya di salah satu persimpangan lika-likunya.

Raiya Rasyidin

            “Raiya…” Akmal memanggil saya usai praktikum Jaringan Komputer. “Kemaren nyari softcopy modul praktikum terakhir?”

            Kemaren saya sempet sibuk minjem-minjem modul praktikum bab terakhir sama anak 2002 yang sekelas RPL sama saya. Dia tau dari mana ya? “Iya…gue belom sempet ngambil softcopynya.” Saya segera menjawab, tidak terlalu lama membuatnya menunggu.

            “Nih…!” Akmal menyerahkan flash disknya.

            “Gue copy dulu…”

            “Bawa aja!” Potong Akmal sebelum saya ngeluarin flash disknya Arian yang saya pinjem, tepatnya Arian maksa minjemin flash disknya karena flash disk saya masih dipinjem Dian.

            “Nggak papa, Mal. Gue copy aja… gue nggak buru-buru kok…” Kata saya kemudian menyalakan sebuah desktop terdekat. Letaknya di dekat pintu keluar Lab Jarkom, waktu itu saya memang udah mau keluar Lab, lagian anak-anak juga udah pada balik karena udah hampir jam setengah

lima

.

            Saya mengeluarkan sebuah flash disk milik Arian, dan menancapkannya di port usb persis di sebelah flash disk Akmal.

            “Itu bukan flash disk lo?” Tanya Akmal. Rupayanya dia tahu flash disk saya mereknya bukan Toshiba putih yang 1 Giga ini, melainkan nexus yang 256 mega.

            “Punya…”

            “Arian 2003?” Tebak Akmal ketika melihat nama flashdisk itu muncul di layer dengan nama ARiAN dengan huruf I kecil. Jelaslah punya Arian.

            “Iya, dipinjemin Arian.”

            “Emang flash disknya Arian muat? Ini gede lho!”

            “Ini satu giga, Mal!”

            “Oh…”

            “Gede ya!” Kata saya begitu nyadar kalo ternyata transfer ke flash disk Arian lambat banget. File-nya lumayan gede juga.

            “Lo deket ya sama Arian?” Akmal malah nanya Arian, mungkin sekedar ice breaker, atau memang ingin cari tahu.

            “Kan gue sekelas PC sama dia.” Saya mencoba menjelaskan bahwa normal aja saya deket sama dia karena kita sekelas PC. Nggak mungkin saya bilang sama dia kalo saya  udah jadian berhubung kita sepakat kalo hubungan ini bakalan jadi rahasia yang nggak tau sampe kapan.

            “Oh…” Akmal diam sebentar, mungkin cari bahan omongan lain. “Oiya… lo kapan Kerja Praktek? Lo kayaknya SKSnya udah banyak, ntar kalo mau KP bilang aja sama gue. Temen gue ada yang kerja di Perusahaan Konsultan IT gitu… kemaren gue juga KP di

sana

, Rai. Ntar kapan-kapan gue kenalin lo sama temen gue…”

            Arian baik juga kalo urusan kuliah. Lagipula, dia jarang nyusahin praktikannya. “Anak sini juga?”

            “Iya angkatan 2000. Pinter lho dia…”   

            “Tapi

kan

gue bukan networking…” Saya baru ingat kalo kita beda konsentrasi.

            “Ya nggak masalah… nanti bisa disesuaikan. Lo masih nyimpen nomor gue

kan

? Ntar gue kabar-kabarin. Mau magang juga bisa Rai, gue kan lagi magang di sana. Kapan-kapan gue ajak maen-maen ke

sana

deh…”

            Kebetulan banget, untung punya temen sebaik Akmal dan murah ilmu. Dia mau bantuin saya masalah kuliah dari mulai bikin tugas JarKom, ditanya-tanya terus masalah pengalamatan IP address yang rumit, ditelpon untuk nanya masalah format Laporan Praktikum, sampe beliin casing hard-disk. Akmal emang jago sama masalah yang ada hubungannya sama hardware computer, nggak heran dia jadi asisten Lab Jarkom.

            “Rai!” Suara Arian ngagetin saya, saya nggak ngerti kenapa dia manggil saya kayak ngebentak gitu. “Aku udah selesai kamu ke mana aja? Katanya sampe jam empat?”

            “Ya aku di sini nggak kemana-mana, Yan!” Kata Saya pelan dan bingung. Saya lalu kembali menatapi layer computer.

            Ia mendekat, menatapi Akmal dengan tegang. Saat itu saya mulai focus sama Arian dan tingkah anehnya. Ya ampun… pasti dia jealous sama Akmal! Saya baru kepikiran. Padahal Akmal tuh nggak ada apa-apa sama saya. Dia temen biasa, tapi menurut Arian tidak. Mungkin menurut dia, siapapun yang mendekati saya kurang dari 1 meter dicurigai menggebet.

            Akmal hanya menatapi Arian, Mukanya kenceng banget. Saya berada di antara mereka, duduk di sebuah kursi di depan computer. Saya lalu berdiri, ketika sadar kalo sebentar lagi mungkin saja Arian mulai aneh-aneh. Aneh-aneh maksudnya ngajak rebut Akmal atau ngomong yang kasar sama Akmal.

            “Santai, dong!” Akmal kayaknya kesel juga sama Arian. Tampangnya yang kenceng dan nada suaranya yang meninggi.

            “Mal, dia cewek gue!” Arian mengangkat mukanya sambil menatapi Akmal. Saya yakin Akmal nggak tahu hubungan saya sama Arian karena saya nggak pernah cerita ke siapapun. Itu karena Harum dan karena saya merasa bukan artis kampus.

            Saya baru sadar kalo selama ini mereka perang dingin karena saya. Akmal yang baik sama saya dan Arian yang nggak mau Akmal baik sama saya. “Yan… kamu kenapa sih? Saya Cuma mau ngambil bahan Jarkom!”

            “Dianya yang sok deketin kamu, Rai!” Ngedeketin?

            “Terus kenapa, Yan? Raiya juga nggak papa gue deketin!” Akmal mulai ngebentak Arian.

            “Raiya nggak tau lo ada maksud!” Bentak Arian.

            Saya jadi bingung, jadi Akmal selama ini nyimpen perasaan ke saya? Arian tahu itu? Nggk mungkin Akmal suka sama saya.

            “Gue tulus sama dia, nggak kayak elo! Brengsek!” Akmal membentak sambil menatapi saya. Ini tandanya dia bilang kalo dia tulus suka sama saya?

            “Ian…” Cegah saya ketika ia hendak maju dan mendekati Akmal. Kemudian Taras dating, ia adalah penyelamat hari ini.

            “Heh… udah-udah…!” Kata Taras seraya menahan tubuh Arian. Ia menarik tangan saya agar mundur dari urusan laki-laki ini. Saya mundur seraya menatapi Ian yang masih terus menatapi Akmal lekat-lekat. “Yan… udahlah…!”

            “Rai… gue Cuma nggak mau elo disakitin sama Arian!” Lagi-lagi Akmal berbicara seraya menatap saya. “Jangan salahin gue, Raiya juga nggak pernah bilang kalo dia jadian sama lo. Elo nya aja kali yang ngaku-ngaku… Raiya juga respon sama gue!” Akmal membela diri.

            Saya respon? Kalo saya tau Akmal suka sama saya juga saya bakalan menghindar! Akmal selama ini menyalah-artikan sikap saya.

            “Mal, bukannya gue belain Arian, Raiya emang ceweknya Arian. Lo respect dikit dong!”

Taras

nyoba ngomong baik-baik juga dengan nada yang baik-baik.

            “Diem lo, Ras!” Akmal membentak Taras. Suasana makin tegang.

            “Elo yang diem!” Arian lebih keras disertai langkahnya yang makin mendekati Akmal.

Taras

menahan tubuh Arian. Kalau sudah seperti ini, akan sulit menahan Arian. Arian sangat emosional.

Taras

mendorong Arian untuk sedikit mundur dan menyisakan rang diantara Arian-Akmal.

            “Heh… Raiya juga nggak masalah… kalopun dia emang cewek lo Tanya sama dia kenapa mau dideketin!”

            Akmal… saya nggak tau kalo dia lagi deketin saya. Bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu dan seolah ngelempar kesalahan sama saya. Saya jadi panas sendiri. Arian lalu menatap saya.

            “Gue ceweknya Arian…” Kata saya sambil menatap Akmal dengan kesal. “Kalo gue tau elo punya maksud, gue pasti nggak bakal ngambil hari praktikum pas elo yang ngajar…”

            “Tapi lo tadi nggak bilang kalo lo jadian sama Arian!”

            Itu kan karena saya nggak mau orang tahu saya jadian sama Arian. Saya nggak mau Harum tau! Tapi saya nggak bisa ngejelasin ke Akmal karena Akmal nggak mungkin ngerti. Saya hanya menghela napas dan nggak jawab apa-apa. Jawaban itu bukan untuk konsumsi Akmal.

            “Nggak bener, lo Rai!” Akmal menatap saya kecewa. “Lo manfaatin gue… tai!” Akmal ngomong dalem banget, bikin saya nggak tau harus ngomong apa. Saya nggak kayak gitu, Akmal! “Cewek ngga bener… pantes lo jadi ceweknya Arian!” Gerutu Akmal yang makin dalem.

            “Ngomong apa lo barusan?”

Taras

jadi ngebentak Akmal.

            Arian langsung mendekati Akmal. Tenaganya begitu kuat sampai Taras tidak bisa menahannya. “Minta maaf ama cewek gue!” Arian mencengkram kerah kemeja Akmal sambil menyuruhnya meminta maaf pada saya.

            “Udah, Yan… dia juga udah ngomong!” Saya udah capek kalo harus liat Arian berantem. Arian nggak peduli sama saya. Dia nggak bakal berhenti sampai Akmal minta maaf sama saya. “Ian!” Bentak saya.

            “Diem kamu, Rai!” Arian malah membentak saya.

            “Anjing lo 2003!” Bentak Akmal pada Arian. Akmal mulai bawa-bawa angkatan.

            Arian nggak mukul, ia mundur terus ngegampar Akmal sampe Akmal jatoh.

            “Ian…!” Saya memohon supaya Arian tidak melanjutkan ketegangan ini menjadi pergulatan Arian-Akmal.

            “Aku bilang diem!” Kata Arian sedikit memandang saya dengan muka garangnya.

            “Anjing lo, Mal, bawa-bawa angkatan gue!” Kata Taras yang udah kesal. “Mending lo keluar, Mal!”

            “Elo yang keluar, anjing! Ini lab gue! Mo mampus lo!” Kata Akmal sambil berdiri.

            “Lo yang mampus duluan!” Bentak Taras yang malah maju ke arah Akmal. “Keluar lo gue bilang!” Bentak Taras yang keburu panas karena angkatannya dianjing-anjingin.

            Arian mencengkram kerah baju Akmal lalu menggiringnya keluar lab Jarkom. Arian mendorongnya keluar hingga Akmal lagi-lagi terjatuh. Arian dengan menahan marah sempat berkata “Ini belom selesai… kalo sampe besok lo ngga minta maaf sama Raiya… abis lo!” Akmal yang jiper lantas pergi dari lab.

            Giliran saya.

            Arian kemudian menghampiri saya, menatap saya, ia memegang lengan saya lalu berkata. “Kamu suka sama dia?”

            Saya nggak nyangka dia bakalan ngomong kayak gitu sama saya. Saya nggak nyangka kalo selama ini dia mikir kayak gitu. Saya Cuma nerima kebaikan orang lain dan nggak enak buat nolak. Saya nggak tau kalo apa yang saya lakuin malah bikin Akmal mengalah artikan apa yang saya lakukan sama dia.

            “Kamu mikirnya gitu, Yan?” Tanya saya pelan sambil menatapnya lekat-lekat. “Saya nggak tau kalo Akmal kayak gitu…”

            “Emang kamu nggak bisa ngerti apa kalo dia suka sama kamu!”

            “Ya aku mana tau, Aku

kan

nggak bisa baca pikirannya!” Saya udah capek ngejelasin dan saya kecewa karena Arian rada nggak percaya sama saya. “Terserah kamu, Yan!” Saya nggak mau menatapinya lagi. Ia masih mencengkram lengan saya.

            “Terus kenapa kamu nggak bilang kalo kamu cewek saya?”

            “Karena kalo dia tau Harum bisa tau!” Bentak saya. Saya kemudian meringis karena cengkraman Arian yang semakin keras.

            “Terus kamu puas bikin saya bener-bener berantem sama Akmal!”

            “Ya emang siapa yang mau kamu berantem sama dia!” Saya bener-bener nggak ngerti maksud Arian. Setelah dia berantem sama Akmal dia nyalahin saya.

            “Saya selama ini ngindarin berantem sama dia, walau saya tau dia lagi deketin kamu. Saya tau Akmal suka sama kamu. Tapi dia kurang ajar kalo sama cewek! Saya lebih tau dia daripada kamu! Kalo saya berantem sama dia, kamu yang kena tau ngga! Nilai praktikum kamu, tau!” Bentak Arian. “Kamu yang masih bakalan berurusan sama dia! Dia asisten kamu, nilai kamu dipegang sama dia! Trus kalo kayak gini kamu bisa apa? Nangis?”

            Ternyata dia khwatirnya sama nilai saya, bukan sama dirinya sendiri. Bukan karena takut dia bakalan serantem sama angkatannya Akmal. Saya meringis. “Arian sakit…” Arian memarahi saya seperti anak umur tujuh tahun, dengan muka cemas sekaligus gahar, dengan cengkraman tangan kanannya di lengan kiri saya.

            “Makanya!” Arian masih membentak. Ia melonggarkan cengkraman tangannya. “Jangan gampang nerima kebaikan orang…” Saya diam dan mengelus lengan saya.“Sakit ngga?” Ia bertanya dengan wajah khawatir.

            Saya tak menjawab, hanya menatapi lelaki di depan saya penuh pertanyaan. Banyak yang saya belum mengerti tentang dia.

            “Rai…” Katanya pelan. Mungkin saja ia hanya ingin menyebut nama saya atau menunggu jawaban saya. Saya masih diam.

            Kemudian kami bertiga kaget ketika beberapa orang masuk dari pintu lab Jarkom bersama Akmal. Anak 2002. Sial, ini pasti gara-gara Arian ngusir Akmal dari labnya. Saya takut banget, takut Arian…

            Arian sudah membalikan badannya, memunggungi saya. Ia pegang tangan saya untuk memastikan ia tetap ada di belakang saya. He’s a gentleman. Ia sempat menoleh ke belakang, dan berkata pelan sekali “Stay with me, unless I ask you to leave…

            Taras membuang rokoknya, menginjak puntung rokoknya.

            “Ada apa, Ras tadi lo ngusir Akmal?” Tanya Opik, biang ributnya 2002. Ia menatap Arian. “Lo… yang ngegampar temen gue?”

            Taras tersenyum sinis.

            “Tau dari mana? Ngadu dia?” Kata Arian disusul tawa sinisnya. Ia berbisik pada Taras. “Bencong, Ras..” Saya piker itu sengaja karena Arian tidak sekedar berbisik, namun juga menatapi Akmal yang berdiri di samping Opik dan suara Arian dapat terdengar oleh mereka.

            “Ian… please!” Bisik saya supaya Arian tidak menantang Opik. We all know him… dan reputasinya sebagai biang rebut. Saya bener-bener takut Arian bener-bener rebut sama mereka. Mereka berenam, sementara Arian Cuma berdua sama Taras, kecuali saya masuk hitungan. Bukan Cuma berenam, di luar ada lebih dari belasan orang 2002.

            Opik maju, mendekat ke Arian. Mungkin ini saatnya. “Anjing lo…”

            Arian terlalu tanggap hingga tangan kanannya yang kekar menangkap tangan Opik yang hampir mendarat di wajahnya. Kemudian mendorong Opik ke belakang. Hanya dengan satu tangan Arian mendorong tubuh Opik hingga hampir saja jatuh. Nggak heran tadi dia bisa nampar Akmal sampe jatuh, nggak heran

Taras

segitunya nahan Akmal supaya nggak rebut sama Opik. Opik panas, 2002 laen juga panas.

            Enam orang itu termasuk Akmal maju mendekat ke Arian. Arian makin erat menggenggam tangan saya. Arian lalu membentak, “TUNGGU!” Suara keras dan lantangnya membuat mereka semua berhenti mendekat. Arian mau apa lagi. Ia lalu merogoh saku levis-nya dan mengeluarkan kunci mobilnya.

            Arian menarik saya kedepan. Saya berada di antara mereka, namun Arian masih tetap memegang tangan saya. “Biarin Raiya pulang…” Arian menatapi Opik. Ia lalu melempar kunci mobilnya pada Taras. “Taras yang nganter!”

            Saya kaget, segera menatapi Arian. “Arian…” Saya protes kalo saya harus keluar tanpa dia. “Enggak!” Kata saya sambil menatapinya.

            Arian melempar kunci mobil ke Taras. Taras kaget, namun ia menangkapnya. “Yan!”     Taras sempet protes kalau harus meninggalkan Arian dalam situasi seperti ini.

            Arian menatap Taras. Ini seolah perintah baginya. “Gue bilang lo anterin Raiya!” Arian mengulanginya lagi dengan jelas membuat

Taras

tidak punya pilihan selain meninggalkan Arian.

            Saya menatapi Arian, khawatir sekali. Ia menatapi saya lalu berkata, “Kamu pulang, ini bukan urusan kamu lagi!”

            Ia melepas tangan saya. Saya masih diam, menatapinya seolah tidak percaya ia akan melindungi saya sampai seperti ini. “Aku bilang kamu pulang sekarang!” Ia membentak saya.

            “Rai…” Taras menarik tangan saya. Saya pasrah keluar.

            “Take care…”

            Saya masih mendengarnya, Yan! Kamu bilang take care…

            

Taras

langsung narik saya turun tangga, bukan naik lift. Ia sambil menelpon seseorang. Ia terus menarik saya dan langkahnya semakin cepat. Saya masih sempat denger gemuruh orang rebut di lantai Lab Jarkom. Namun, saking cepatnya

Taras

menarik saya, suara itu makin hilang. Taras terus menarik saya sampai lapangan parker. Ia nggak bicara banyak. Kemudian saya menghentaknya ketika kami baru saja akan masuk ke mobil.

            “Gue mau balik ke atas!” Bentak saya.

            “Ini urusan cowok!”

            “Tapi ini salah gue!” Bentak saya.

            “Emang Akmalnya yang rese’ Rai. Kita udah tau Akmal kayak gimana! Udah lo turutin aja maunya Arian!” Saya diam. “He’ll be ok!” Taras menambahkan.

            Kemudian tiba-tiba Fina sudah ada di situ sama Welly.

            “Ya ampun… ada apaan sih? Lo berantem sama Arian?” Tanya Fina.

            “Fin… anterin Raiya pulang, ya….” Kata Taras. “Arian berantem sama anak 2002.”

            “Anjing… di mana dia sekarang?” Welly panas, mungkin dia nggak mau Arian kenapa-napa yang mengakibatkan Welly clubbing sendirian.

            “Lantai lima, Lab Jarkom.”

            “Ayo…” Welly udah panas dan udah siap-siap mau ke gedung Infor.

            “Enggak, Well!” Cegah Taras. “Gue aja… angkatan gue dianjingin sama dia! Lo tunggu sini. Pegang nih!” Taras menaruh kunci mobil di tangan Welly. “Rai… lo pulang sama Fina… Pokoknya lo pulang dulu! Jangan ampe Arian marah sama gue gara-gara lo belom nyampe rumah.”

            “Taras…” Seorang cowok bertubuh gempal tiba-tiba menghampiri mereka.

            “Thank God!” Seru Taras melihat cowok itu.

            Saya kenal dia. Dia Arung ’99. Saya pernah dikenalin sama Arian. Dia tuh bapak angkatan 2002, tapi dekat sama Arian sama Taras.

            “Arian mana? Kok kemaren nggak pada ke kampus? Nggak tau apa gue udah lulus?” Cerocos Arung yang nggak sadar kalo semua lagi pada panic.

            “Rung… Arian digebukin anak lo tuh di Lab Jarkom.” Kata Taras yang bicaranya tergesa-gesa.

            “Hah yang bener lo?”

            “Bener Rung…”

Taras

langsung lari lagi ke arah gedung, nggak peduli lagi apa Arung bakalan nyusul dia apa enggak, meskipun dia yakin Arung bakalan nyusul.

            Arung menatapi saya. Ini orang emang rada lemot kalo dikasihtau. Kurang reflek. Ia menatapi saya penuh pertanyaan. “Elo…” Arung lalu menatapi

Taras

yang sudah hilang dari pandangan. “Bener, Rai?” Ia menatap saya lagi penuh pertanyaan. Saya jadi bingung, kenapa ada manusia lemot di saat kritis seperti ini, manusia yang sebenarnya sangat dibutuhkan.

            “Cepetan, Rung… ntar temen gue mati!” Welly gerah ngeliat Arung yang lemot. Arung lalu lari dengan tubuh gempalnya ke arah gedung, ketika ia sadar keadaan telah benar-benar memburuk.

Raiya Rasyidin. 

            “Rai… nanti kalo ada apa-apa gue kabarin!” Kata Fina sebelum saya turun dari mobil. Dia udah berkali-kali ngomong kayak gitu.

            “Kok gue disuruh pulang sih?” Tanya saya yang masih nggak rela saya pulang duluan sementara Arian bakalan babak belur dikeroyok anak 2002.

            “Iya… he doesn’t want to hurt you.” Kata Fina. “Sampe lo lecet dikit aja, Arian bakal marah! Makanya I have to drive carefully!”

            Saya diam, ia kemudian berkata. “I know him well. I’ve lived with her father for 3 years. Saya paling dekat sama dia. Dulu juga kita sama-sama high school di Singapur. Dia sempet tinggal di rumah gue. Dia nggak punya perempuan yang dia saying sebelom ketemu kamu…” Kata Fina. “Dia nggak suka mukul orang di depan lo… Lo nggak tau kan dia pernah mukul anak SMA yang waktu itu hampir nyolek lo di Kemang?”

            Saya inget, dia pernah bete seharian waktu di Aksara. Jadi itu gara-gara orang yang nongkrong di depan Aksara itu.

            “Rai… lo beruntung dapet abang gue. Biarpun dia dulunya bajingan, player, penjahat kelamin tapi dia bisa jadi cowok gentleman buat lo.” Kata Fina.

            Saya menghela napas. Saya juga bingung Arian belom nelpon saya. Masih aja kepikiran itu.

            “Tenang aja… semua anak-anaknya Mulia paling enggak pernah ikut bela diri… lo liat aja badannya Arian six pack gitu…”

            Ya ampun, Fina… mana pernah saya periksa liat perutnya six pack apa engga.

            “Ya tapi dikeroyok orang banyak gitu mana mungkin…”

            “Rai!” Potong Fina. “It’s okay. Namanya juga cowok!”

            Saya menghela napas. Kemudian saya memutuskan untuk segera masuk ke rumah.

            “Yaudah deh, Fin gue balik ya… Lo mau mampir?”

            “Next time, pasti mampir. Gue harus balik duluan karena Mulia ada di rumah. Dia lagi pengen di rumah setelah hadir di wisuda abangnya Arian. Besok dia mau ke Jepang, back to his business, abangnya Arian juga bakalan ke

Lombok

… liat resort di Lombok. Jadi rumah bakalan sepi lagi.” Cerocos Fina. Dia emang suka cerita hal yang sebenernya bukan urusan saya. Tapi itu cara dia menghidupkan suasana, termasuk ngomentarin cowok-cowok yang dianggap melakukan kejahatan terhadap fashion.

            “Okay… gue balik ya…!”

            Fina mengangguk. “You can call me…” Kata Fina. “…kapan-kapan gue certain hal-hal memalukan dalam sejarah hidup Arian!”

            Saya tersenyum.

Raiya Rasyidin.

            “Arian!” Saya exited campur khawatir menerima telepon Arian.

            “Sorry aku baru telpon…”

            “Arian kamu nggak papa?”

            “I’m fine… Cuma memar sedikit… tadi Ada Arung naek ke Lab Jarkom! Are you okay, Rai? You sound like… kamu nangis?”

            Saya memang nangis saking khawatir sama kamu. Puas kamu bikin saya nangis? Saya udah lama nggak nangis buat cowok.

            “Rai… aku nggak papa… Maaf tadi aku bentak kamu.” Nada suaranya memelan, ia terdengar merasa bersalah. “Kalo engga kamu nggak mau pergi… itu juga Taras harus maksa kamu keluar.” Katanya. Saya masih diam. “Rai… should I be there?” Ia berkata lembut, ia terdengar lebih khawatir lagi.

            Saya berdecak kesal. “Ya enggaklah!” Kata saya mencoba mengembalikan nada suara saya menjadi normal.

            “Kamu nggak papa

kan

?”         

            “Nggak papa.”

            “Yaudah kamu kalo nggak penting-penting amat nggak usah berurusan sama Akmal…” Kali ini suaranya lembut.

            “Arian maaf ya… gara-gara aku…”

            “Rai… emang Akmal yang rese’ ” Potong Arian. “Akmal kalo dibiarin kurang ajar. Don’t blame your self!”

            Saya diam. Di balik semua kesangaran,  bad temper, overprotective, selfish, nggakmaungalah dan weirdo-nya Arian, ternyata dia lembut. Dia nggak pernah bilang kalo dia takut kehilangan saya tapi dia bener-bener nggak mau ada orang yang ngambil saya dari dia atau nyakitin saya.

to be contunued…

next : perisai Raiya chapter Four

Four

Selalu ada Arian dan selalu ada ego-nya ketika Raiya memilih untuk menyelesaikan semuanya sendiri….

PERISAI RAIYA bab II….

July 19th, 2007 by inacoffee

….

"…We all know that you are a jerk!

“Ya… dan masalahnya cewek bener nggak ada yang mau sama lo! Good girl for the good boy! And you don’t deserve her!”

"…Good girl for the good boy! And you don’t deserve her!”

……….

Two

Arian membuat sebuah teori tentang Raiya dan membeberkannya di depan

Taras

“Raiya adalah perpaduan taste gloomy-nya Sigur Ros dan Radiohead, which is a synonym for perfect!”

Nobody knows it that you have a secret smile

that you use it only for me

So use it and prove it

remove this whirling sadness

I’m losing I’m bluesing

but you can save me from madness

-SEMISONIC-

Raiya Rasyidin

            “Lo sekelas Pengolahan Citra sama dia kan?” Pertanyaan Dian membuat saya hampir tersedak es kelapa terlalu frontal untuk perempuan yang sensitive sama vocabulary Arian seperti saya.

            “Iya kenapa?” Kenapa lo harus Tanya tentang Arian? Kita nggak jadian, kok. Saya belum berniat mengecewakan kalian semua, bahkan mengkhianati Harum.

            “Arian emang nggak pernah nanyain kabar Harum?” Tanya Dian pada Raiya. Dian, one of my friends with long hair… cantik, pintar, tapi terlalu banyak masuk ke dalam masalah yang sebenarnya dia tidak perlu terlibat. Di balik semua itu dia setia kawan dan nggak pernah ngecewain teman-temannya. 

            “Enggak.” Saya nggak mau terlalu banyak ngomongin Arian di depan mereka. Sera, Dian dan Harum selalu membicarakan Arian. Mereka bener-bener nggak rela kalo Harum disakitin sama Arian, especially Dian. Sera terlalu naïf dan tipe orang yang nggak terlalu banyak ngelawan. She just broke up with her boyfriend.

            “Rai… lo pernah nggak nanya-nanya tentang Harum ke Arian?” Tanya Dian.

            “Enggak.” Kata saya lagi.

            “Masak sih Arian nggak pernah nanyain gue? Kalo gue sms dia masih jawab kok, Rai!” Kata Harum.

            Sera lalu berkata. “Yaudahlah… lo kemaren bilang cowok masih banyak, bukan Cuma Arian aja, bukan Cuma Dimas. Rum, lo tuh cantik… kalo Arian aja lo bisa dapet masak yang laen nggak bisa.” Sera selalu seperti itu, sangat pemaaf walaupun dalam hatinya sakit. Selalu menghindari konflik, selalu menerima saja semua yang terjadi pada dirinya.

            “Sera lo nggak ngerti, nggak ada yang bisa ngegantiin Arian!” Harum mencoba supaya Sera lebih mengerti kalo nggak ada yang bisa gantiin Arian. Harum sudah mengatakannya sejak ia putus dengan Arian berbulan-bulan yang lalu.   

            “Yaudahlah, Rum!” Saya mulai bicara. Saya mulai nggak tahan kalo mereka terlalu banyak ngomongin Arian, antara rasa bersalah dan muak. “Arian juga belom tentu mikirin lo!” Kayaknya saya agak kasar, tapi emang itu yang terjadi, tidak sedikitpun Arian mikirin Harum. Semalam pun dia bilang itu bukan urusan saya kalo Harum masih saying sama dia.

            Tiba-tiba handphone saya bunyi.

            

            “Rai… aku udah kelar?” Arian!

            Saya exited, menunggu kabar kuis-nya Arian. “Gimana?” Mendadak saya lupa kalo lagi ada diantara Sera, Harum dan Dian. Saya exited denger suara Arian. “Bisa nggak?” Saya harap-harap cemas sama kuis kalkulus2 nya Arian.

            “Alhamdulillah bisa.” Kata Arian. “Makasih banget ya, Rai… semua yang kamu jelasin ke aku tuh keluar… terus tadi Pak Anas ngebahas kuisnya, kamu tau ngga jawaban aku bener Rai!” Arian kedengeran exited banget untuk certain kuis kalkulusnya hari ini.

            I’m glad to hear that!Seru saya. Saya tiba-tiba sadar mereka menatapi saya, menatapi exited-nya saya dengan suara di seberang sana.

            “Aku pengen ketemu kamu, nih… kamu di mana?”

            Otak saya mulai balik ke temen-temen saya. Saya coba menyadarkan diri sendiri saya sedang berada di dekat Harum yang masih berharap sama Arian sementara Ariannya lagi telpon saya.“E… aku lagi sama Sera, Harum, Dian gitu… di kantin belakang.” Saya memberi isyarat agar dia mengalah. Seperti ia mengalah ketika saya memilih pulang bareng mereka daripada dianterin Arian, seperti ia mengalah ketika saya minta tidak muncul dan menegur saya ketika saya sedang bersama mereka.

            “Oh…” Ia terdengar kecewa. “Nanti mau pulang bareng aku?”

            “Ya… nggak tau juga… I’ll call you.”

            “Yaudah…” Arian langsung menutup telpon. Dugaan saya ia sedikit kesal, sejak semalam ia kesal.

            Saya sedikit merasa bersalah.

            

            “Siapa, Rai?” Tanya Dian.

            “Temen gue…”

            “Anak sini ya? Kok kenal sama kita?”

            “Ya… gue certain elo semua… soalnya kan gue sering bareng lo ke mana-mana.” Jelas saya yang mulai bingung.

            “Rai… lo punya cowok?” Selidik Dian.

            “Hah? Enggak kok!” Bantah saya.

            “Ya ampun, bilang aja lagi, Rai… kita juga nggak bakal marah kalo lo punya cowok. Lagian lo udah lama nggak pacaran… sampe kapan coba lo mau sendirian, anak seangkatan kita aja udah ada yang married.”         Jelas Harum.

            “Enggak kok. Temen doing…” Iya, Cuma teman, walaupun kita berharap lebih. Tapi jangan khawatir, itu Cuma harapan dan saya nggak mau ada tulisan ‘MT’ di jidat saya.

            “Tapi kayaknya lo deket deh… Rai kalo lo suka bilang aja… cerita aja ke kita kenapa sih!” Dian nggak mau salah satu diantara kita menyimpan rahasia yang seharusnya menjadi konsumsi komunitas ini.

            “Iya temen deket gitu. Cuma gue lagi nggak mau pacaran.”

            “Kenapa? Gara-gara mantanlo itu? Dirga ya?”

            “Ya… nggak juga sih, Cuma gue maunya serius… Cuma nggak tau deh dianya…” Okay… itu

kan

yang elo semua mau tau? Saya selalu mau serius untuk setiap hubungan, tapi reputasi Arian, juga kalian tentunya, menghalangi saya untuk membuat sebuah hubungan serius dengannya.   

            “Ya ampun Rai, jalanin aja kali. Gue juga waktu pacaran sama Arian niatnya serius…” Lagi-lagi Arian disebut. Saya juga gitu, kalo saya pacaran sama Arian saya pasti niatnya serius, tapi apa Arian bisa serius? Harum aja sampe digituin? He can plays any girl tapi bukan saya.

            “Rum… udah deh… jangan Arian lagi!” Sera juga kayaknya udah gerah denger nama itu. Mungkin aja ia keinget mantannya.

            “Gimana nggak diomongin, orangnya ada di sini…” Dian menatapi kea rah pintu kantin. Saya menoleh ke belakang, Arian baru masuk ke kantin bersama

Taras

temen seangkatannya. Arian sempat menoleh kea rah mereka namun wajahnya datar, tidak tersenyum sedikitpun. Ia kemudian duduk di meja yang kosong yang ada di belakang Dian dan Harum. Sera dan Saya yang duduk di hadapan mereka masih dapat menatap Arian. Harum dan Dian yang duduk di hadapan saya tidak bisa melihat ke arah Arian.

            Saya lalu buka sms, dan mengetik sebuah message untuk Arian.

            Yan… kamu ngapain sih di sini?

            Sent

Raiya saying… ini

kan

kantin jurusan kita… I need to eat something.

Sender : Ar

Kamu sengaja…

Sent.

            

Sengaja mau ketemu kamu. Anggap aja aku one of your groupies

Sender : Ar.

            

I don’t have any groupies. Kamu tuh seneng banget bikin aku deg-degan.

Sent.

Heartbeat is the way I communicate with you, honey. That’s the way you understand how bad I need your existentcy.

Sender : Ar.

Saya nggak balas sms itu lagi. Dia seneng banget ngeledek saya kayak gini, liat muka saya sedikit pucat karena kena masalah atau taking too much risk kayak gini. Saya bukan orang yang senang mengambil resiko besar, sementara dia sudah menjadi masalah besar untuk saya.

Tanpa saya sadar, Harum sudah ada di samping saya. Dia pindah supaya bisa ngeliatin Arian. Saya makin nggak tega sama Harum. Segitunya Rum supaya lo Cuma bisa ngeliat dia dari jauh! Sementara gue bisa kapan aja telpon dia atau bahkan minta ditelpon, gue bisa kapan aja minta dia dating bahkan sebelom gue minta, gue bisa pulang bareng sama dia kapan aja gue mau.

“Rai… dia tuh masih mikirn gue!” Rum… lo menyiksa pikiran gue, menyiksa semua organ-organ tubuh gue…

Saya kemudian metapi ke arah Arian, ia memang sedang menatap ke arah kami, tapi dia bukan menatapi Harum. Ia menatap saya sesekali, ketika ia sedang ngobrol bareng

Taras

.

Taras

ke sini!” Harum langsung pura-pura nggak ngeliatin Arian.

Ia tersenyum pada saya, menghampiri saya. Apa ini bagian dari scenario Arian buat sengaja ngerjain saya dan bikin saya deg-degan?

Taras

adalah teman baik Arian yang sering banget keliatan sama Arian. Kadang-kadang kita sering juga pergi bertiga.

“Rai… ada tugas Pengolahan Citra ya?” Tanya Taras.

“Iya…”

“Lo udah ada kelompok?”

“Belom, gue juga belom bikin apa-apa.”

“Gini, Rai… gue sama Arian belom dapet kelompok. Kita gabung aja mau ngga? Soalnya gue sama Arian nggak begitu ngerti mata kuliah ini.”

Taras

tersenyum nakal. Lo juga ikutan Ras dalam tingkah nakalnya Arian ini? Ariang sengaja.

“Raiya lo gabung aja sama mereka!” Harum semangat banget, pasti dia ada maksdu di balik dorongannya.

Taras

hanya tersenyum mendengar perkataan Harum. Saya yakin

Taras

tahu sesuatu, apalagi dia teman dekat Arian, pasti Arian cerita. Iyalah, Cuma Taras yang bisa dicurhatin Arian dan Cuma Arian yang bisa dicurhatin

Taras

.

“Yaudah… kita bikin bareng aja.” I give up. Saya nggak bisa nolak, menghindar dan lari dari kenyataan kalo saya juga… suka…? Saya nggak bisa nolak untuk nggak satu kelompok sama mereka.

“Yaudah, ntar kabar-kabarin kita ya kalo mau mulai bikin tugasnya. You’re the leader!” Iyalah saya leader-nya. Taras sama Arian paling males coding program, kalo nggak terpaksa mereka nggak bakal mau ngulik syntax  java walau sebenernya mereka bisa.

Saya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.

Taras

lalu kembali ke bangkunya.

Harum berkata sangat serius. “Rai… lo harus Bantu gue deket sama Arian lagi!”

Damn!

He’s smiling to me…

Detak jantung kita nggak sinkron… maybe that’s why I have difficulty to communicate with you…

sent

Senyumnya perlahan memudar ketika membaca sms saya.

Just Believe in me that you want me too

I’ll never let somebody close to you

Just promise me that you never let me down

Love me ‘till the end of time

-THE

ADAMS-

Raiya Rasyidin

            Usai kuliah Sistem Keamanan Komputer, Arian ada di depan kelas saya. Kebetulan, mata kuliah itu saya sekelas sama Taras. Arian nunggu saya dan Taras selesai kuliah sambil.

“Arian…” Saya gemes liat Arian yang terkekeh-kekeh ketika ngebahas cerita Kantin siang tadi.

Kita bertiga ke parkiran. Saya dan Arian jalan di depan,

Taras

di belakang. Kita bertiga mau sama-sama ke Roxy beli casing hard disk saya yang rusak. Waktu saya nanya-nanya tentang harga casing hard disk, dia malah nawarin diri untuk nganterin saya, mana bisa saya nolak kalau dia selalu bikin saya nyaman tiap kali pergi bareng.

Dia bilang dia mau nganterin saya supaya saya tau dan ngerti masalah hardware berhubung saya ambil konsentrasi Rekayasa Perangkat Lunak yang banyak berkutat di pemrograman dan software sedangkan Arian dan

Taras

ngambil konsentrasi Jaringan Komputer. Arian memang lebih paham masalah hardware ketimbang saya. Masalah utama yang ia hadapi sehingga ipknya nggak nyampe 2,5 Cuma malas dan godaan dunia hedonisme yang ia tempati yang membuat Embassy (yang Alhamdulillah sekarang udah nggak ada) lebih menarik ketimbang kampusnya sendiri. Akhirnya, sekarang dia banyak ngulang mata kuliah yang jelek-jelek.

“Gara-gara kamu tuh Harum jadi nyuruh aku bantuin dia supaya deket lagi sama kamu…” Saya ngomel pelan. Arian sampai harus mendekatkan telinganya sambil berjalan mensejajari langkah saya.

Ini keluh kesah saya yang sejujurnya, supaya dia mau ngerti sedikit aja kalo posisi saya sulit banget untuk nerima dia. Jalan sama dia pun harus nunggu sepi, paling enggak setelah jam empat saya baru bisa keliaran di kampus sama dia. Jam segitu, Harum, Dian dan Sera sudah pulang karena menghindari macet jam lima. Sementara, Arian membuat saya seringkali terjebak macet bersamanya.

“Terus kamu mau aku deket sama dia lagi?” Arian berbicara agak serius. “Kamu maunya apa sih?” Arian menggerutu begitu saja. Gerutuannya itu entah kenapa bikin saya kesel, bikin saya ngerasa dia terlalu egois untuk bisa menahan dirinya, dan sangat egois untuk mengerti situasi saya. Mungkin menurut dia ini masalah kecil yang bisa dibawa bercanda.

Saya berhenti.

Taras

jadi menghentikan langkahnya, Arian berhenti dua langkah di depan saya, menatapi saya sambil memicingkan matanya karena mata hari sore yang menyilaukan matanya.

“Kenapa?” Tanya Arian. “Marah?” Ia berkata seolah saya tidak boleh marah.

            “Arian,” Saya akan menyebut namanya lengkap ‘Arian’ bukan Ian atau Rian ketika saya sedang marah padanya. He knows that. “… aku

kan

pernah bilang sama kamu, biar aku urusin masalah aku sama Harum… itupun kalo kamu mau nunggu. Kalo kamu nggak mau nunggu kayak gini nggak ngomong kayak gitu! Tinggalin aja aku!”

            “Ya aku bingung sama kamu…” Arian balas dengan nada suara yang lebih tinggi dari saya.

            “Woi…!”

Taras

menyela. “Udah berantemnya di mobil aja!”

Taras

merangkul Arian, matanya mengisyaratkan saya untuk menyudahi perkelahian ini. Kami berdua masih bertatapan penuh ketegangan. Tidak disangka satu kalimat di mulutnya bikin saya nggak tahan lagi untuk nunjukin ke Arian kalo saya udah depresi dengan ego-nya.

            “Nggak usah! Aku pulang sendiri!” I left him.

Arian dan

Taras

on the way to

Roxy Square

.

            “Hard disknya Raiya kayak punya lo

kan

?” Tanya Taras meyakinkan sekaligus memulai pembicaraan mereka. Sejak tadi Arian diam saja,

Taras

gerah didiamkan seperti ini, seolah Arian lagi ngambek sama dia.

            “Iya.” Kata Arian pendek, tidak sependek lagu parachutesnya coldplay yang Cuma segitu doing.

            

Taras

menghela napas. “Lo sabar dikit kenapa sih sama Raiya. Kalo kayak gini, ujung-ujungnya lo juga yang capek!”

Taras

mulai ngomel ngeliat kelakuan temannya yang selalu nggak sabaran ngadepin Raiya. Jelas aja, untuk pertama kalinya dia harus mengejar perempuan karena pada umumnya, Arian yang selalu dikejar perempuan. Untuk pertama kalinya ia bersusah payah demi perempuan, biasanya ia akan mendapatkan perempuan manapun yang ia suka. Tapi tidak Raiya!

            “Ya lo liat

kan

Raiya… gue sabar nunggu dia, tapi ampe kapan? Gue nggak pernah kayak gini sama cewek, Cuma Raiya…”

            “Iya gue tau!” Potong Taras. “ Dia nggak percaya sama lo.”

Taras

menjelaskan dengan entengnya, tanpa peduli temannya akan sakit hati. Semua orang tau Arian.

            “Gue udah nunjukin semuanya Ras!” Arian membela diri, memberitahu keseriusannya pada

Taras

, memberitahu sahabatnya bahwa ini bukan permainan terakhir karena permainannya bersama perempuan-perempuan telah berakhir sebelum Raiya.

            “Lo juga sih emosional!”

Taras

berbicara dengan santai, tidak sesantai Arian. “You’re just too selfish to love her, Man! Sementara dia bukan cewek biasa yang mau ngikutin semua kemauanlo, bahkan dia belum tentu mau ngikutin semua cara lo untuk mencintai dia.”

            “Ya lo juga pasti emosional kalo ngadepin cewek kayak dia.” Bela Arian.

            “Nah… baru ngerasa

kan

lo saying sama orang!”

            “Udah deh Ras, lo udah orang yang kesekian yang ngomong kayak gitu.”

            “Yaudahlah… ntar gue bantuin ngomong sama Raiya… besok gue mo balikin buku SKKnya!”

            Selalu ada yang bisa

Taras

lakukan untuk orang di sebelahnya. Begitujuga Arian, selalu ada yang bisa ia lakukan untuk

Taras

. Waktu Taras digebukin sama anak Teknik Gas Petrokimia (TGP), Arian langsung nyamperin itu anak. Penyebabnya Cuma gara-gara cewek, ceweknya anak TGP dipacarin sama

Taras

padahal

Taras

tau itu cewek punya cowok anak TGP.

            

Taras

sama Arian memang sama gilanya. Perbedaannya,

Taras

lebih sabar, lebih humble, mungkin itu yang bikin mereka selalu akur. Soalnya di dunia ini seimbang.

Ada

siang ada malam, ada hujan ada panas. Arian dan

Taras

ibaratnya kayak kepingan puzzle. Mereka cocok.

Taras

yang selalu mau ngikutin ego-nya Arian, Arian yang selalu mau ngedengerin

Taras

.

Taras

yang selalu mau aja diajak mabok sama Arian, Arian yang juga mau diajak

Taras

nemenin ikut training ESQ gara-gara

Taras

disuruh bokapnya. Kedua kegiatan itu ngabisin duit dengan jumlah yang sama.

Love hurts… But sometimes it’s a good hurt
And it feels like I’m alive.
Love sings,When it transcends the bad things.
Have a heart and try me,
’cause without love I won’t survive.

-incubus,love hurts-

Raiya Rasyidin

            “Rai… makasih ya!”

Taras

menaruh buku saya di meja kantin. Pas banget saya lagi sendirian, anak-anak belum keluar kuliah Bahasa Rakitan. Ia duduk di depan saya tanpa persetujuan saya. Saya tahu maksudnya, paling mau ngomongin si Arian. Kejadian kemaren udah bikin saya muak banget sama semua selfish-nya Arian.

            “Mudah-mudahan si Arian nggak cemburu gue duduk sama lo…”

Taras

selalu ngeledek saya. “Arian nggak pernah cemburuan sama cewek-ceweknya, kecuali sama cewek yang dia saying.”

Taras

menjelaskannya lebih rinci.

            Saya mencoba tidak perduli sama perkataannya, namun perkataannya membuat saya mencocokan dengan beberapa kejadian, termasuk kejadian Akmal 2002 nganterin saya ke perpus minjem buku Jaringan Komputer. Besoknya dia beliin saya buku Jarkom yang asli yang karangan Ferouzan. Ternyata dia bener-bener nggak suka kalo saya deket-deket sama orang lain.

            Mba Asih dating dengan sepiring somay pesanan

Taras

.

            “Somaynya, Ras…” Mba Asih nggak lupa cengar-cengir sama Taras. Arian-Taras memang pasangan cowok ganteng yang bikin Mba Asih cengar-cengir kalo mereka makan siang di kantin.

            “Makasih, Mba Asih…”

Taras

nggak lupa senyum ramah. Ni anak beda banget sama Arian, kalo Arian pasti senyum-senyum nakal ngege-erin Mba Asih sampe Mba Asih nabok otot bisepnya. Kalo udah pake nabok, itu berarti Mba Asih emang lagi pengen megang-megang Arian. Arian tau mana cewek yang cari perhatian sama dia, mana yang engga. Kalo ketemu cewek yang lagi caper sama dia, dia bakalan bikin itu cewek ge-er setengah mati. Arian lagi… I talk too much about this man.

            “Kok sendirian Rai?” Tanya Taras sambil ngaduk-ngaduk somaynya.

            “Iya lagi nunggu anak-anak.” Saya emang lagi nunggu Sera, Harum sama Dian.

Ada

perubahan kronis yang terjadi semenjak saya sama Arian jalan bareng (jalan bareng adalah sebutan saya untuk hubunga tanpa status seperti ini) adalah pembagian waktu yang kronis antara teman-teman saya dan Arian (lebih tepatnya ego-nya Arian yang tidak bisa saya hindari). Pagi sampai siang menjelang sore adalah waktu saya untuk Dian, Harum dan Sera. Sore adalah waktu saya pribadi, maksudnya waktu pergantian dari Dian cs ke Arian. Biasanya saat itu saya ada di perpus, ngerjain tugas atau di lab, kadang-kadang sama anak-anak Lab, kadang Arian ikutan di situ. Sore sampe malam, tepatnya tidak melebihi jam delapan adalah waktu saya bersama Arian. Itu pun Arian udah nyolong-nyolong waktu siang saya dengan sering nyamperin saya ke kelas, ke lab atau ke tempat di mana saya berada.

            “Arian saying sama lo.”

Taras

tiba-tiba bilang gitu kemudian menyuap somaynya. Saya udah tau, Ras. Arian udah tiga kali ngomong, terakhir semalem dia ngomong lagi.

            “Tar, ngapain sih ngomongin Arian lagi… gue tau deh dia temen lo… tapi nggak usah ngebelain dia soal kemaren!” Saya lelah dengan nama Arian.

            “Bukannya gitu, Rai…”

Taras

membela diri sambil senyum-senyum di atas kecemberutan saya. “Gue Cuma ngasitau aja… sebelom lo nyesel. Diantara sekian banyak cewek yang pernah ada di deketnya, Cuma elo yang diginiin. Arian berubah. Fina aja sampe bingung abang sepupunya rajin belajar, jadi jarang ngerokok, rajin solat lagi. Sebelomnya nggak pernah kayak gini. Kerjanya party-party sampe pagi sama anak-anak. Sekarang jarang mau dia diajak maen sama anak-anak. Biasanya

kan

gue pergi sama dia, sekarang gue jadi jarang pergi juga gara-gara dia males pergi…”

            Saya juga tau Arian berubah, tapi nggak pernah tau kalo perubahananya segini besar. Rajin belajar, saya emang sering banget ngingetin dia belajar, terlebih pas UTS kemaren. Jarang ngerokok, saya memang pernah bilang nggak suka nyium bau rokok yang nempel di bajunya. Bau rokoknya bikin saya mual dan pusing. Rajin sholat, saya nggak pernah nyuruh dia sholat, tapi waktu saya lagi sama dia saya nggak pernah ninggalin sholat. Sering juga saya minta mampir ke masjid kalo udah waktunya sholat. Saya juga nggak tau kalo dia jarang pergi malem lagi sama temen-temen malamnya. Kenapa saya banyak nggak taunya!!!

            “Nanti lo nyesel kalo lo terus-terusan nggak bisa percaya sama dia…”

Taras

ngomongnya serius banget. Walaupun sambil makan somay, matanya ngeliatin saya dengan tatapan tajam. “Kalo masalah Harum sih… emang Harumnya aja yang geer. Mereka nggak pernah jadian. Deket doing, trus sempet sering jalan bareng sama Arian sekitar sebulanan… Lo tau sendiri tau Arian emang suka deket sama cewek-cewek, tapi nggak ada yang bertahan lama.”

            “Tapi Harum bilang mereka sempet…” Saya berhenti bicara. “She slept with him!” Saya berbisik. Saya sempet ragu-ragu buat ngomongin ini, mengingat Harum temen baik saya dan

Taras

sebenernya adalah orang luar di lingkarang pertemanan saya dengan mereka, tapi saya ngerasa

Taras

tahu masalah ini.

            “Enggak, Rai!”

Taras

yang semula serius, berubah lumer. Ia sedikit tertawa. “Harum mabok, gue sama Arian nggak tau rumahnya di mana, yaudah kita buka kamar. Arian aja langsung tepar…”

Taras

tertawa lagi. Tawanya kalo ini agak ngeledek saya. Saya ngerasa dia lagi ngetawain saya yang terlalu polos untuk masalah kayak gini. Ras, I’m not part of your and your friend’s hedonism thought. “…kalo perlu lo suruh aja temenlo bikin visum, terus aduin ke LSM perempuan…”

Taras

menambahkan.

            “Lo kok ngomong gitu sih?” Saya protes, seakan-akan

Taras

merendahkan Harum. Jujur, saya juga nggak suka liat Harum yang selalu siap memberikan seluruhnya untuk Arian. Kadang saya merasa ia terlalu bodoh sebagai perempuan.

            

Taras

tertawa. “Ya iyalah… temenlo mengada-ada sih!” Wajah Taras begitu percaya diri dan meyakinkan mengatakannya.

            “Lo beneran?” Saya mulai tertarik untuk percaya semua pernyataan Arian.

            “Raiya… lo kenapa sih nggak nanya langsung sama Arian?”

Taras

menanyakan sesuatu yang saya males jawabnya.

            Saya diam. Saya emang nggak mau nanya langsung, takutnya bener. Kalo bener, saya pasti nggak mungkin jadian sama orang yang pernah tidur sama temen saya. Saya juga nggak mau nanya apa Arian pernah tidur sama perempuan apa enggak. Terus terang saya takut banget itu bener. I’m not part of his hedonism thought. Jadi jangan libatkan saya sama dunia kamu yang tidak pernah sederhana, Arian! Jangan libatkan saya ke dalam dunia kamu yang terlalu bebas.

            “Arian emang brengsek, Rai. Tapi buat lo enggak…”

            “Terus kenapa?” Saya menantang

Taras

. Apa yang kamu mau katakana lagi tentang Arian, Ras? Hal baik apa lagi dari dia yang mau kamu keluarin yang saya nggak pernah sadar? Apa lagi yang mau dibela dari Arian?

            “People change… jadi jangan takut sakit hati.

Taras

malah ngomong sesuatu yang bikin saya diam.

            I dare the wrong person.

Love is real, real is love


Love is feeling, feeling love


Love is wanting to be loved

Love is you


You and me


Love is knowing


We can be


-love, JOHN LENNON-


Raiya Rasyidin

            “Rai…” Arian duduk di samping Saya yang lagi duduk di depan salah satu monitor di Laboratorium Informatika Dasar. Laboratorium tempat praktikum pengenalan dasar pemrograman seperti Basic Java Programming dan Introduction to C++ Programming.

            Hari itu, saya sengaja ke LID buat ngelanjutin bikin user interface buat tugas mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak saya yang belum kelar juga, sekaligus ngetes connection ke MySQL-nya. Kalo saya kerjain di rumah, pasti saya keburu kecapekan di jalan dan langsung menuju kasur. Tugas yang satu ini bikin saya susah tidur susah makan. Masalahnya, saya harus bikin database untuk satu kasus yang dikasih dosen saya. Terlebih, pengguna aplikasi database saya bakalan mau interface sebisa mungkin memudahkan user sehingga semua interaksi ke dalam table basis data harus dibuat lewat user interface yang mudah dimengerti. Singkatnya, user interface menyembunyikan kerumitan-kerumitan aplikasi database saya. It’s not easy.

            Saya tahu Arian sedang melirik casing hard disk saya yang sudah baru, warnanya abu-abu. Kemarin Akmal memberikannya untuk saya. Sepulang saat saya bertengkar dengan Arian, Akmal memang mencegat saya di gerbang kampus dengan Jazz merahnya. Dia bilang dia mau ke arah rumah saya. Di jalan kita ngobrol-ngobrol sampe akhirnya saya cerita tentang casing hard disk saya yang rusak. Malamnya, dia dating ke rumah dengan casing hard disk baru. Saya mau ganti uangnya, dia nggak mau. Pasti Arian udah panas ngeliat saya udah punya casing hard disk baru. Itu salah satu pertanda kalo saya nggak terlalu butuh dia kalo sekedar buat beli casing hard disk.

            Saya hanya menoleh sedikit ke arah Arian lalu kembali menatap layer computer, meng-klik tombol run di IDE Eclipse yang saya gunakan untuk menulis code proram java untuk aplikasi basis data saya. Aplikasi basis data saya kemudian muncul di tengah layer computer.

            “Kamu udah beli hard disknya…” Arian mulai bicara, bikin saya nggak bisa mikir lagi, nggak focus lagi sama tugas RPL saya.

            “Iya.” Saya emang lagi males ketemu dia, tapi saya harus nyelesaiin masalah saya sama dia. Saya sendiri masih belum bisa memutuskan untuk ikut nekat sama Arian atau menyelamatkan diri dengan pergi jauh dari hidup Arian.

            “Kamu pergi sendiri?” Arian mulai nanya-nanya seluk beluk hard-disk 40 giga dengan casing baru yang ada lampu semacem LED biru kedip-kedipnya.

            “Enggak, kok.” Saya membantah. “Akmal yang beliin.”

            Arian sedikit kesal. Saya tahu. Ia kemudian menaruh bungkusan plastic di atas monitor. Bentuknya kotak sebesar tempat makan. Ya ampun… pasti Arian beli juga casing hard disk buat saya.

            “Aku piker kamu suka yang warna hitam…” Arian nada suaranya pasrah. Saya memang pernah bilang kalo saya lebih suka punya barang-barang warna hitam dari mulai handphone, desktop, tempat pinsil, tas, kecuali barang-barang yang saya pake di badan. Karena untuk barang-barang yang jarang dicuci, hitam bakalan menyembunyikan kotornya. Saya nggak nyangka Arian tanggap banget.

            Itu bikin saya berhenti mengetik, lalu bersandar di sandaran kursi. Saya menghela napas lelah saya. Saya berhenti dengan coding yang jauh dari sempurna di hadapan saya. Arian… saya merasa bersalah kali ini. Kenapa kamu segitu perhatiannya sama saya? Saya belum jadi siapa-siapa kamu, Yan!

            “Aku yang salah, Rai!” Arian mulai bicara lagi, pasti soal kemarin. “Aku emang lagi nggak sabar sama kamu. Aku nggak mikir aku bakalan nyerah nunggu kamu.”

            Apa, Yan? Kamu nggak bakal nyerah? Tapi aku juga nggak tau kapan ku bisa nerima kamu?

            Sekarang.

            Besok.

            Bulan depan, atau bahkan nggak pernah!

            Saya lalu memberikan sedikit rasa pesimis saya tentang hubungan ini padanya, agar ia tahu bagaimana pendeknya pikiran saya. “Kalo kamu nyerah juga nggak papa, kok Rian.”

            “Jangan gitu dong, Rai!” Arian langsung memotong saya dengan nada khawatir.

            “Yan…” Saya punya banyak alasan yang bikin saya menggantung Arian.“Kamu

kan

tau saya sama Harum temen baik banget…”

            “Harum itu

kan

orang luar Rai… yang penting kamu percaya kalo aku nggak bakalan main-main sama kamu.” Arian begitu meyakinkan saya tentang keseriusannya.

            Saya diam sebentar. “Saya percaya, Rian.” Sementara saya sebenarnya tidak benar-benar yakin kalau saya percaya bisa menjalani semua kemauannya. Yang ada di kepala saya, selama ini Arian memang nggak pernah kurang ajar sama saya atau tiba-tiba saya denger dia lagi jalan sama cewek lain. Arian juga nggak pernah ngajak saya clubbing, atau sekedar nemenin dia ke party-party gilanya seperti yang ia lakukan bersama cewek-cewek sebelum saya.

            I know he’s so polite.

            “Rai… be my girlfriend…!” Ngomongnya pelan banget, ia pun tidak memegang tangan saya atau kontak fisik apapun, Cuma ngeliatin saya penuh harap. Bukannya kontak fisik itu penting buat kamu, Yan? Penting buat kamu nyentuh perempuan karena itu gunanya perempuan buat kamu, Yan? How can I be so cynical to him? Dia baik, dia sopan, dia respect saya banget sejak saya ketemu sampai hari ini. Dia tahu saya paling ngga suka cowok yang dikit-dikit megang-megang. Dia tahu saya…

            Okay you win, Arian! Kamu bisa mematahkan alasan saya masalah keseriusan. Tapi kalo soal Harum…

            “Terus aku mesti ngomong apa sama temen-temen aku…”

            “Mereka nggak perlu tau, Rai! Lagian ini tentang hidup aku sama hidup kamu. Ini pilihan kamu.” Arian mencoba mematahkan alasan kedua saya. Arian kemudian menambahkan, “Kalo kamu nggak bilang sama mereka, mereka nggak bakal tau…. Aku serius sama kamu!” Suaranya memelan ketika mengatakan ini.

            Maksudnya, nggak bakalan terjadi apa-apa selama saya nggak cerita apapun sama mereka. Nggak bakalan terjadi apa-apa asalkan saya mau mengambil resiko sedikit saja untuk hubungan ini.

            Arian, kamu mau membuat saya melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya lakukan karena ketidaksanggupan nyali saya, ketidaksanggupan jantung saya untuk berdetak lebih kencang dari biasanya, ketidaksanggupan hati saya untuk menyimpan ini rapat-rapat dari teman-teman baik saya dan ketidakmampuan saya untuk menjadi nekat seperti kamu.

            

            Kalau kamu berikan sedikit saja nyali kamu untuk menguatkan saya,…

            kalau kamu beri saja sedikit terapi detak jantung pada jantung saya agar ia sanggup bekerja lebih cepat dari biasanya,…

            kalau kamu berikan sedikit saja ruang di hati kamu untuk tempat saya menyimpan semuanya hingga saya tidak perlu hati mereka untuk menampung keluh kesah saya,…

            dan kalau kamu berikan sedikit saja kenekatan kamu untuk saya pelajari…

            maka… saya tidak akan banyak berpikir lagi untuk menjadi satu-satunya perempuan kamu. Kamu sanggup, Yan?

            Arian… saya tahu kamu sanggup.

            Saya menghela napas. Mungkin ini memang saatnya saya tidak membuat Arian menunggu lagi, dan segera punya status sama hubungan yang nggak jelas ini. Kalo memang Arian bener-bener serius, untuk melihat itu resiko sakit hati sedikit tidak ada salahnya. Asal jangan sesakit dan sedalam Dirga.

            “…asalkan…” Saya mulai bicara dan ia benar-benar menyimak. Ia sangat penasaran dengan jawaban yang sudah lama ia tunggu. “….asalkan kamu Cuma punya satu perempuan, dan asalkan kamu nggak pernah nyakitin Harum dan perempuan lain lagi…”

            Ia menghela napas, lalu tersenyum sebentar. “I would never leave you…”

to be continued…

UPCOMING NEXT… Perisai Raiya, III

Three

Menurut Arian, existensi Raiya di muka bumi ini adalah untuk dihormati seperti perempuan terhormat. Don’t even think to touch her

…itu kalo nggak mau Arian ngamuk.

He never let somebody close to his girl!

            …..Giliran saya.

            Arian kemudian menghampiri saya, menatap saya, ia memegang lengan saya lalu berkata. “Kamu suka sama dia?”….

my vacation?

July 15th, 2007 by inacoffee

I can’t even get my vacation… preparing my self for next semester (it’s not gonna be in the same place… not in this city, even this country…)

Hopefully semua lancar2 aja… tapi seakan-akan rutinitas dimulai lagi senen besok… i still have to learn the asp.net… work with the dicom-things… filling the form for visa… learn dutch…

Huuuu… let’s prepare for a better tomorow…!!! It will be as hell as the other day,,, hahahahaha

can’t you just…. –

July 13th, 2007 by inacoffee

When life looks too perfect to live… or just the worst thing to face, "i’m waiting for another sunday to come when the sky is blue and nothing can take me away from you…"

Hueeeh… i’m damsel in distress! Feel like i’m damsel in distress…

huuuhh….

PERISAI RAIYA

July 12th, 2007 by inacoffee

–>SATU

~

Ambiguitas menjadi milik Arian ketika ia otaknya tidak lagi mampu merumuskan alasan logika untuk perasaannya.


Fina Amaruli.

“…aku di… coffe bean. I’ll wait you here…” Suara Arian terhenti sebentar. Ia menunggu lawan bicaranya selesai bicara. “Take your time, aku ditemenin sepupu aku. Tadi aku culik biar nemenin aku, kebetulan dia emang lagi kelayapan di sini. Fina… aku pernah certain kamu

kan

…” Arian melirik ke arahku dengan nakalnya. She must be special sampe dia cerita tentang saya, and maybe the entire family. “You’ll meet her…” Arian melirik arlojinya. “Okay… bye!”

            Arian Amaruli is sitting in front of me. Some girls keep their eyes staring this creature, but Arian keeps cool. Sesekali ia menatap balik perempuan-perempuan di meja seberang, lalu kembali mendengarkan warta berita saya sambil menikmati espresso di hadapannya. Sejam yang lalu dia telpon saya dan memastikan kalau saya ada di Taman Anggrek, terus dia nyuruh saya nemenin dia di coffee bean. Jelas dia minta saya temenin, soalnya dia tahu benar saya gampang diajak ngobrol dan bisa kayak radio prambors.H e’s charming sekaligus ganteng padahal dia Cuma pakai jeans belel, dan kaos putih keluaran invictus. Whatever he wears, he will look fashionable. He knows that I admire him as a cousin, a very charming cousin.

            We both have the same last name: Amaruli. Sebuah nama yang cukup dikenal di

Jakarta

sebagai Amaruli Group, pemililik sejumlah perusahaan electronic terbesar dan pertama di

Indonesia

yang pemasarannya semakin meluas ke Asia Tenggara.

            Arian adalah anak yang selalu bikin kejutan di keluarga besar kita. Tinggal bersama keluarganya Arian di Jakarta membuat saya mengenal baik sosok playboy-player di hadapan saya ini. Kali ini, dia bikin kejutan lagi dengan tiba-tiba insyaf, karena semua orang di sekelilingnya tahu Arian adalah player. Player yang handal mempermainkan perempuan-perempuan

Jakarta

. Sudah setengah tahun ini, ia masih bersama perempuan yang sama.

            “So… siapa cewek yang breaking the record?”

            Arian mengernyitkan alis menatapi saya. Ini adalah salah satu pose gantengnya. Arian memang memiliki beberapa pose ganteng yang dia sendiri nggak sadar kalo dia punya itu. “Breaking the record?” Ia balik bertanya seolah tidak mengerti, mungkin hanya pura-pura tidak tahu.

            “Ian… it’s been six months and you are still with the same girl!” Jelas saya. “The six months is called breaking the record.” Saya lalu meminum hot chocolate saya.

            Arian tertawa kecil. “Raiya.” Ia menyebut satu nama yang saya tunggu karena ia belum pernah menyebut namanya. “Dia lagi nemenin temennya belanja. Katanya temennya baru putus sama cowoknya… Emang kalo cewek baru putus terus pergi ke mall ya, Fin?”

            “Tanya aja sama cewek-cewek yang lo putusin. Tapi jangan mengalihkan pembicaraan!” Saya nggak mau kalah. Arian terkenal pinter ngmong, dan pintar mengalihkan pembicaraan. Tepatnya, pinter ngeles.

            “Iya, Fin.” Arian menyerah “Namanya Raiya. You’ll meet her!”

            “Iya tapi kok bisa… ini serius atau…” Saya menatapi Arian penuh selidik.

            “Gue juga maunya serius, Fin.”

            “Jadi Raiya itu ceweklo apa bukan?”

            “Belom jadian, sih…”

            “Jadi nggak serius?” Saya mendesak.

            “Bukan berarti nggak serius… Cuma…”

            “Cuma apa?”

            “Dia nggak mau jadian.”

            “Ditolak?”

            Arian bilang ditolak aja bingung.

            “Ditolak Raiya?” Tanya saya lagi memastikan.

            “Dia belum mau pacaran.”

            Saya tertawa terbahak-bahak.

            Arian menatapi saya kesal. “Puas, Fin?”

            “Arian… you really fall in love with her…!” Seru saya hampir menjerit. He just found the right girl.

            Tiba-tiba seorang perempuan dating kea rah kami. Cardigans coklat tua menutupi dalaman long t-shirt pink lembut-nya yang longgar dan menutupi pinggulnya, ditambah skinny jeans dan sepatu teplek simple warna krem. She looks simple, terlebih dengan rambut yang disimpul ke atas dengan tusuk konde, hanya poninya yang sedikit menutupi mata. Saya berpikir ia akan terlihat lebih wah dengan kalung yang menghiasi leher indahnya, atau membuka cardigansnya dan membiarkan Arian melihat kulit putih lengannya. But she looks simple and polite, tidak seperti gadis yang biasanya gelendotan sama Arian, bahkan tidak seperti gadis yang sejak tadi memperhatikanArian di meja seberang kami.

            “Sorry…” Terlebih ketika ia mengucapkan sorry saat ia baru saja dating, lalu duduk di antara kami berdua.

            “Nggak papa, Rai. Kok cepet?” Kata Arian.

            “Sera-nya udah mau pulang, terus dia pulang sama anak-anak.” Jelasnya pelan.

            Saya berdehem, menyadarkan Arian kalo saya masih exist di muka bumi.

            Arian tersenyum sampai gigi putihnya terlihat. Ini pose gantengnya yang kedua.

            “Ini Fina, yang aku pernah certain.”

            Saya tersenyum. “Kamu pasti Raiya!”

            Ia tersenyum manis. Ia menyodorkan tangannya lebih dahulu dengan ramah, dan wajahnya yang ceria. “Raiya!” Katanya pelan.

            “Fina. Jangan salah paham ya… gue sepupunya Arian. Dia tadi telpon gue minta ditemenin… oH iya… Arian udah cerita tentang gue ya… tapi dia tuh baru certain elo ke gue tadi. Padahal gue sering ngeliat lo di kampus.” Saya menyerocos dan Raiya tetap sabar menunggu saya selesai berbicara. So polite!

            “Enggak…” Kata Raiya. “Nggak salah paham kok! I know your cousin is an outstanding playboy!” Raiya melirik ke arah Arian sambil tersenyum.

            Gotcha Arian! Emang enak disindir sama cewek yang nolak dia. Biar tau rasa, biar dia tau kalo nggak semua cewek gampang dikadalin, gampang dibuayain.

            Arian mukanya datar. Ini pose ganteng yang ketiga, which is pose yang selalu dia tampilkan di manapun dan kapanpun. Ekspresi kayak gini yang bikin dia nggak gampang ketebak sama cewek manapun, mungkin juga Raiya.

            “Sorry ya, jadi ganggu jalan-jalan kamu sama Sera.” Arian kembali mengalihkan pembicaraan.

            “Ngga papa, Yan. Aku juga nggak mau kamu nggak lulus Kalkulus lagi…” Kata Raiya.

            “Emang lo pada mau belajar kalkulus?” Tanya saya yang diam-diam bersyukur saya nggak pernah dapet mata kuliah itu di Fakultas Ilmu Komunikasi yang saya pilih yang kebetulan satu universitas sama mereka berdua, Cuma beda fakultas aja.

            “Iya Fina… we’re gonna talk bout calculus all day!” Kata Arian. “Iya tapi nggak di sini, gue balik lagi ke kampus, lo mo ikut?”

            “Enggak ah, gue masih mau di sini.”

            “Yaudah deh… lo bawa mobil

kan

?”

            “Yup!”

            “Benar nggak mau bareng kita, Fin?”

            “Bener. Lagian gue bawa mobil juga.” Kata saya seraya tersenyum ramah pada Raiya meskipun sebenarnya saya ingin sekali hang out sama mereka. Untuk pertama kalinya Arian memperkenalkannya pada perempuannya yang sangat friendly, casual, simple, not glamour, not fashionable and clever enough (she will teach him calculus!).

            Mereka pun pergi dari hadapan saya. Arian tidak menggandeng tangannya saat berjalan bersamanya. Biasanya paling tidak ia menggandeng tangan perempuan di sampingnya, atau bahkan merangkulnya. Ia sengaja begitu untuk menunjukkan bahwa perempuan yang berjalan di sebelahnya adalah perempuannya. Itu pula pertanda Raiya bukan perempuan yang kegatelan dan kegeeran yang biasa dibawa Arian.

            Mungkin saja Arian benar-benar ditolak dan perempuan itu nggak officially Arian’s girl, atau mungkin perempuan itu masih milik orang lain. Ah, tapi Arian bukan sekali dua kali nikung cewek orang. Kali ini mungkin Arian bakalan serius, di balik ekspresi datarnya, dan sikap sembunyi-sembunyinya sama saya.

            Sial, saya baru tau setelah enam bulan mereka jalan bareng. She never respect me as a cupid! Dia emang jarang ngobrolin cewek sama saya, karena dia emang nggak pernah serius sama cewek manapun. Dia juga nggak pernah ngajak saya ke tempat dia seneng-seneng sama temen-temennya, sama

Taras

dan Welly. He’s my cousin, I know him well but we never had a time to get known each other. Arian dekat sama saya Cuma sampai sebatas tanggung jawab, maksudnya tanggung jawabnya sebagai sepupu saya yang wajib nganggep saya sepupunya dan jagain saya. Uhmn… in fact,… I don’t really know him…!

Raiya Rasyidin.

            “Rai…” Arian lagi-lagi mencegah saya turun dari mobilnya. Dia pegang lengan saya, ketika saya akan membuka pintu mobilnya. Situasi ini yang paling saya hindari, situasi di mana dia bakalan ngomong serius tentang hubungan yang nggak jelas ini. Sebenarnya saya sedikit takut karena Arian memang bad temper, cepet marah, egois, membuat semua orang selalu menurutinya. Itu mungkin karena ia terbiasa dengan semua orang di sekelilingnya yang selalu menuruti keinginannya, dan terbiasa dengan semua yang berjalan sesuai keinginannya. Oh… do I know him well?

            Dia bukan pacar saya, tapi sering marah kalo saya jalan sama Bang Akmal anak 2002 yang sering bantuin praktikum Jaringan Komputer saya. Dia bilang dia juga bisa bantuin saya bikin PC router pake ubuntu, yang nilainya pasti lebih bagus daripada pake Windows Server 2003 bikinan Bang Akmal.

            Dia bukan pacar saya, tapi sering banget sms saya untuk sekedar bilang “take care…” atau menggunakan istilah “sayang…” tanpa izin saya terlebih dahulu.

            Dia bukan pacar saya tapi sering bikin saya khawatir kalo dia Missing Grade gara-gara kebanyakan absent, atau dapet E karena nilai tugasnya nol.

            Dia bukan pacar saya, tapi saya pengen banget liat dia sedikit care sama tugas kuliahnya atau sesekali nggak keluar malam sama temen-temennya.

            “Udah malem, Yan… nggak enak sama Ibu.” Kata saya pake bawa-bawa nama Ibu. Tapi Ibu emang nggak suka kalo anaknya pulang kemaleman. Kecuali dulu, waktu saya masih sama Dirga karena Ibu percaya banget sama Dirga, saya juga percaya sama Dirga. Saking percayanya saya sampe nggak tau kalo Dirga selingkuh di

Bandung

. Ah, Dirga lagi.

            Arian masih menatap saya.

            “Besok kamu

kan

kuisnya jam delapan… aku nggak mau kamu…”

            Arian memotong. “Justru aku nggak mau besok aku masih mikirin ini.”

            “Yaudah makanya nggak usah dipikirin.” Saya enteng banget ngomongnya.

            “Kamu tau

kan

apa yang mau aku omongin?”

            Saya diam. Memang sudah ketebak kalo dia bakalan minta kepastian. Saya bukan fans kamu, Arian. Saya juga nggak berharap jadi salah satu groupies kamu. Tapi waktu kita sekelas Metode Berorientasi Objek semester lalu, sampai hari ini, kamu selalu bikin saya nyaman di deket kamu. Saya udah lama nggak pacaran sejak Dirga, mungkin karena terlalu sakit hati dan masih takut kecewa untuk memulai. Saya juga nggak ngerti kenapa kamu milih saya, saya juga nggak percaya banget sama kamu, karena kamu memang player, Arian.

            “Aku nunggu kamu, Rai…” Kata Arian.

            Saya jadi bertanya-tanya, saya perempuan keberapa yang dirayu seperti ini oleh Arian. Saya jadi ingat Harum, yang sampe hari ini belum bisa ngelupain Arian. Waktu itu saya belum kenal Arian. Harum Cuma jadian sebulan sama Arian, kata Harum Arian selingkuh. He slept with her after Welly’s birthday party. Sampe sekarang Harum nggak tau kalo saya sering jalan sama Arian, temen-temen saya juga nggak ada yang tau soal Arian. Saya nggak pernah cerita ke siapapun soal Arian.

            Saya juga bingung sebenernya saya gimana. Saya nggak percaya sama Arian, saya nggak mau jadian sama mantannya Harum yang masih belom bisa dilepasin Harum, tapi dibalik semua itu saya nggak bisa nolak waktu Arian minta diajarin kalkulus 2, saya nyusul dia ke Rumah Sakit waktu dia jatuh dari motor, saya pulang sama dia sekitar tiga sampai empat kali seminggu, dia selalu cerita semua yang bikin dia kesel dan ketawa sama saya dan itu bikin saya masuk ke dalam dunianya. Tapi saya masih ragu-ragu, takut Arian nggak pernah berniat serius sama saya dan saya belum siap dikecewakan untuk kedua kali.

            “Jangan ngomongin itu sekarang, Yan…” Akhirnya saya memutuskan demikian. Saya menunda lagi keputusan yang harusnya saya ambil. Kata Harum perempuan memang suka ditarik ulur kayak layangan. Saya terus teringat Harum, teringat untuk tidak disebut mt(makan temen) dengan cara jadian sama mantannya temen baik saya.

            Saya mendengar Arian menghela napasnya. Ia menatap lurus ke depan seperti pasrah dengan apa yang saya katakan dan tidak lagi berkata apa-apa. Arian tahu Harum teman saya, tapi mungkin ia tidak pernah tahu kalau saya bener-bener nggak enak kalo sampe Harum tau saya sering jalan sama Arian. Yang dia tau, saya nggak pernah percaya sama dia, dan saya bener-bener hati-hati sama dia, hati-hati menjaga perasaan saya.

            “Kamu tau Harum

kan

?” Tanya saya sambil menatapinya.

            Ia kembali menatapi saya dengan hanya menolehkan wajahnya pada saya. “Harum… temen kamu.”

            “Mantan kamu

kan

?”

            “Iya. Terus?”

            “Aku nggak enak sama Harum…”

            “Rai aku

kan

udah nggak sama dia lagi…”

            “Dia masih saying sama kamu.”

            “Ya itu bukan urusan kamu.” Suara Arian mulai meninggi, saya lumayan kaget. “Kalo itu alas an kamu…”

            “Bukan Cuma itu, Rian!” Potong saya. “Saya nggak mau main-main!”

            “Ya emang siapa yang mau main-main sama kamu!” Arian mulai tidak sabar, saya belum pernah lihat ia seperti ini. Apa acting marah-marah kayak gini juga bagian dari rayuan gombalnya? Apa saat ngerayu perempuan dia bawa-bawa habit bad tempernya itu? “Apa kamu mau aku nikahin sekalian?” Senekat itukan Arian sama perempuan yang baru ia kenal 6 bulan? “Kamu mau dilamar sekalian?” Arian menatapi saya dengan wajah tegangnya.

            “Kamu apaan sih?”

            “Tuh sekarang siapa yang nggak serius?” Arian bernada seperti mengomel.

            Saya menghela napas. “Kasih saya waktu buat nilai kamu serius apa engga, dan kasih saya waktu buat ngejelasin ke Harum, kalo kamu nggak mau tinggalin aja saya!” Kata saya pelan. “Kasih saya waktu juga buat percaya sama kamu, Arian. Mungkin kamu emang nggak seburuk pikiran saya.”

            Arian diam.

            “Arian… aku nggak mau ngajarin kamu kalkulus 2 kalo kamu ngulang lagi… kamu pulang ya… Besok jangan kesiangan.”

            Arian mengangguk.

            Sampai kapan? Sampa kapan dia mau digantungin kayak gini? Sampai kapan dia mau nunggu? Cowok mana yang bisa tahan nunggu lama-lama? Diam-diam saya juga khawatir dia lelah nunggu saya. Saya takut ini terakhir dia ngomong karena dia udah capek.

            Saya lalu turun dari mobil dan meninggalkannya tanpa sedikit senyum.

Arian menyenandungkan Lolita-nya the milo, sembari melihat punggung si gadis yang perlahan menghilang di balik pagar rumahnya…

Arian Amaruli and Fina Amaruli.

            “Rian…” Fina masuk ke kamar Arian tanpa permisi. Fina memang tinggal di rumah Mulia Amaruli, bersama Arian dan harusnya bersama seorang laki-laki Amaruli lagi yang sedang bersekolah di luar negri.

            Orangtua Fina tinggal di Singapur. Fina adalah anak tunggal Hutomo Amaruli, adik Mulia Amaruli. Fina memang mencintai

Jakarta

lebih daripada Prada, maka ketika lima tahun lalu Hutomo sekeluarga memutuskan pindah ke Singapur untuk mengurus salah satu anak perusahaan Amaruli di sana, Fina meminta tetao tinggal di Jakarta. Hutomo pun mengizinkan asalkan ia tinggal bersama Mulia.

            Fina duduk di sisi tempat tidur Rian sementara Arian sibuk di depan meja belajarnya, mengerjakan sesuatu dengan kertas dan pensilnya, dan buku kalkulus tebalnya. Fina menyalakan televisi dan menonton MTV, ia mengeraskan suara televisi ketika melihat Fergie di TV.

            “Arian… lo belajar apa?” Tanya Fina ketika sadar abang sepupunya sedang sibuk di depan meja belajarnya.

            “Besok gue kuis…”

            “Yah… padahal gue mau denger ceritalo tentang Raiya and kisah hts lo sama dia…” Fina kecewa.

            “Cerita apaan lagi?” Arian tidak sedikitpun menatap adik sepupunya, ia menatap lembaran kertas yang dipenuhi angka, tanda akar kuadrat, symbol plus minus, serta symbol bilangan tak hingga.

            “Gue tuh Cuma bingung, Yan. Perempuan kayak apa yang bisa bikin lo berubah kayak gini. We all know that you are a jerk!

            “I was!” Kata Arian membela diri. Ia memutar kursinya hingga menatap Fina. “That’s why she never trusts me, and trusts this relationship.”

            “Arian denger ya… she’s an extraordinary girl…Mimpi aja lo bisa dapetin dia!”Fina kejam.

            Arian merespon datar. Ia lalu berkata “2 bulan gue ditarik ulur kayak gini…”

            “Nah…

kan

… baru tau rasa!” Kata Fina. “Kalo dia cewek bener, dia nggak bakal percaya sama elo!”

            “Dia emang nggak percaya sama gue, berarti dia cewek bener dong?” Arian berkata seenak

peru

tnya.

            “Ya… dan masalahnya cewek bener nggak ada yang mau sama lo! Good girl for the good boy! And you don’t deserve her!”

            “Sentimen lo!” Arian memutar kembali kursinya dan tidak lagi memperdulikan Fina yang asik nonton tv di kamarnya. Ia menatap bilangan-bilangan di hadapannya. Ia masih belum bisa memecahkan satu masalah persamaan. Belum lagi, percakapan sore tadi masih membekas di kepalanya. Kemudian tangannya bergerak mengikuti laju otaknya, menuliskan symbol untuk bilangan tak hingga di kertasnya berulang kali. ~.

            Entah kenapa ia suka sekali menulis symbol itu, seperti garis lurus yang kemudian menjadi bengkok, melentur ke atas dan ke bawah. Seperti jalan yang berkelok halus ke kiri dan ke kanan. Simbol yang sangat lentur dan tidak lurus, tidak pula terlalu bengkok, tidak bengkok dengan tajam, hanya lentur. Mungkin itulah makna symbol tak hingga, entah di mana ada kepastian nilai bilangan itu. Tidak lurus dengan tegas, tidak pula bengkok dengan tegas.

            Seperti hidup dan ambiguitasnya. Seperti cinta dan definisinya. Seperti banyak hal yang di luar jangkauan manusia seperti kita.

to be continued…

kayaknya mendung…. Uhmm!

June 19th, 2007 by inacoffee

After the stressful day, the-running-away-thing, the assignment, and a little tears…. finally i laughed… i smiled…

Stressfully ngerjain DIP jam 4.30…. WAKE UP DENGAN badan yang tidak seenak biasanya walaupun hujan mendukung banget suasana hari ini… i took my pink-brown shirt… and jeans… and pink veil… thought it would be a rainy day… walaupun nggak se-rainy yang gue bayangin…

Semalem gue masih ketawa-tawa ngobrol2… sekarang dah kayak kesamber boomerang becandaan gue semalem… don’t know why i was not okay enough to smile… got rush for some cds… i’m not okay… just i’m not okay….

Kemaren malem gue masih ngobrol-ngobrol tentang saturday night fight… girl fight… haha’ it could be a ridiculous fight to do, but some people have to fight…. while the others don’t. But the most ridiculous thing are some facts yang belakangan gue tahu dan otak gue terus berputar dan mikir…. "Kenapa bisa kayak gitu?" ….
I won’t tell the details here… karena bakal membiarkanlo wondering apa yang terjadi pada malam minggu lalu… haha’… i won’t tell the details..

At least setelah hari ini begitu s+cks… gue masih bisa ngakak-ngakak… masih bisa nemuin ruang untuk membuat otak gue menjadi dirinya sendiri… masih bisa nggak waras…. masih bisa ngelakuin sesuatu yang bikin kaki gue ringan banget….
Puh…..!

so many things to say

May 31st, 2007 by inacoffee

Start to be shocked… and start to realize that i’m not gonna find friends like them… huuuu…

Acceptance letter yang udah diupdate udah nyampe ke inbox gue… then i realize that this is really happen… tapi gue masih disibukkan dengan tugas-tugas gue… huuuuu… jadi gue memburu surat-surat sekaligus memburu tugas sampe gue nggak masuk ADS tadi siang… i skipped the class… karena gue harus ke SMA 28 SEKOLAH yang mendidik gue untuk menjadi coffee lover dan insomnia…

Ternyata ijazah gue nggak bisa diambil hari ini juga karena guru2 lagi raker, akhirnya gue ngaduk2 lemari dan menemukan ijazah yang udah dilegalisir… uh… AKHIRNYA….

mudah2an semua lancar2 aja… amin!