PERISAI RAIYA
–>SATU
~
Ambiguitas menjadi milik Arian ketika ia otaknya tidak lagi mampu merumuskan alasan logika untuk perasaannya.
Fina Amaruli.
“…aku di… coffe bean. I’ll wait you here…” Suara Arian terhenti sebentar. Ia menunggu lawan bicaranya selesai bicara. “Take your time, aku ditemenin sepupu aku. Tadi aku culik biar nemenin aku, kebetulan dia emang lagi kelayapan di sini. Fina… aku pernah certain kamu
kan
…” Arian melirik ke arahku dengan nakalnya. She must be special sampe dia cerita tentang saya, and maybe the entire family. “You’ll meet her…” Arian melirik arlojinya. “Okay… bye!”
Arian Amaruli is sitting in front of me. Some girls keep their eyes staring this creature, but Arian keeps cool. Sesekali ia menatap balik perempuan-perempuan di meja seberang, lalu kembali mendengarkan warta berita saya sambil menikmati espresso di hadapannya. Sejam yang lalu dia telpon saya dan memastikan kalau saya ada di Taman Anggrek, terus dia nyuruh saya nemenin dia di coffee bean. Jelas dia minta saya temenin, soalnya dia tahu benar saya gampang diajak ngobrol dan bisa kayak radio prambors.H e’s charming sekaligus ganteng padahal dia Cuma pakai jeans belel, dan kaos putih keluaran invictus. Whatever he wears, he will look fashionable. He knows that I admire him as a cousin, a very charming cousin.
We both have the same last name: Amaruli. Sebuah nama yang cukup dikenal di
Jakarta
sebagai Amaruli Group, pemililik sejumlah perusahaan electronic terbesar dan pertama di
Indonesia
yang pemasarannya semakin meluas ke Asia Tenggara.
Arian adalah anak yang selalu bikin kejutan di keluarga besar kita. Tinggal bersama keluarganya Arian di Jakarta membuat saya mengenal baik sosok playboy-player di hadapan saya ini. Kali ini, dia bikin kejutan lagi dengan tiba-tiba insyaf, karena semua orang di sekelilingnya tahu Arian adalah player. Player yang handal mempermainkan perempuan-perempuan
Jakarta
. Sudah setengah tahun ini, ia masih bersama perempuan yang sama.
“So… siapa cewek yang breaking the record?”
Arian mengernyitkan alis menatapi saya. Ini adalah salah satu pose gantengnya. Arian memang memiliki beberapa pose ganteng yang dia sendiri nggak sadar kalo dia punya itu. “Breaking the record?” Ia balik bertanya seolah tidak mengerti, mungkin hanya pura-pura tidak tahu.
“Ian… it’s been six months and you are still with the same girl!” Jelas saya. “The six months is called breaking the record.” Saya lalu meminum hot chocolate saya.
Arian tertawa kecil. “Raiya.” Ia menyebut satu nama yang saya tunggu karena ia belum pernah menyebut namanya. “Dia lagi nemenin temennya belanja. Katanya temennya baru putus sama cowoknya… Emang kalo cewek baru putus terus pergi ke mall ya, Fin?”
“Tanya aja sama cewek-cewek yang lo putusin. Tapi jangan mengalihkan pembicaraan!” Saya nggak mau kalah. Arian terkenal pinter ngmong, dan pintar mengalihkan pembicaraan. Tepatnya, pinter ngeles.
“Iya, Fin.” Arian menyerah “Namanya Raiya. You’ll meet her!”
“Iya tapi kok bisa… ini serius atau…” Saya menatapi Arian penuh selidik.
“Gue juga maunya serius, Fin.”
“Jadi Raiya itu ceweklo apa bukan?”
“Belom jadian, sih…”
“Jadi nggak serius?” Saya mendesak.
“Bukan berarti nggak serius… Cuma…”
“Cuma apa?”
“Dia nggak mau jadian.”
“Ditolak?”
Arian bilang ditolak aja bingung.
“Ditolak Raiya?” Tanya saya lagi memastikan.
“Dia belum mau pacaran.”
Saya tertawa terbahak-bahak.
Arian menatapi saya kesal. “Puas, Fin?”
“Arian… you really fall in love with her…!” Seru saya hampir menjerit. He just found the right girl.
Tiba-tiba seorang perempuan dating kea rah kami. Cardigans coklat tua menutupi dalaman long t-shirt pink lembut-nya yang longgar dan menutupi pinggulnya, ditambah skinny jeans dan sepatu teplek simple warna krem. She looks simple, terlebih dengan rambut yang disimpul ke atas dengan tusuk konde, hanya poninya yang sedikit menutupi mata. Saya berpikir ia akan terlihat lebih wah dengan kalung yang menghiasi leher indahnya, atau membuka cardigansnya dan membiarkan Arian melihat kulit putih lengannya. But she looks simple and polite, tidak seperti gadis yang biasanya gelendotan sama Arian, bahkan tidak seperti gadis yang sejak tadi memperhatikanArian di meja seberang kami.
“Sorry…” Terlebih ketika ia mengucapkan sorry saat ia baru saja dating, lalu duduk di antara kami berdua.
“Nggak papa, Rai. Kok cepet?” Kata Arian.
“Sera-nya udah mau pulang, terus dia pulang sama anak-anak.” Jelasnya pelan.
Saya berdehem, menyadarkan Arian kalo saya masih exist di muka bumi.
Arian tersenyum sampai gigi putihnya terlihat. Ini pose gantengnya yang kedua.
“Ini Fina, yang aku pernah certain.”
Saya tersenyum. “Kamu pasti Raiya!”
Ia tersenyum manis. Ia menyodorkan tangannya lebih dahulu dengan ramah, dan wajahnya yang ceria. “Raiya!” Katanya pelan.
“Fina. Jangan salah paham ya… gue sepupunya Arian. Dia tadi telpon gue minta ditemenin… oH iya… Arian udah cerita tentang gue ya… tapi dia tuh baru certain elo ke gue tadi. Padahal gue sering ngeliat lo di kampus.” Saya menyerocos dan Raiya tetap sabar menunggu saya selesai berbicara. So polite!
“Enggak…” Kata Raiya. “Nggak salah paham kok! I know your cousin is an outstanding playboy!” Raiya melirik ke arah Arian sambil tersenyum.
Gotcha Arian! Emang enak disindir sama cewek yang nolak dia. Biar tau rasa, biar dia tau kalo nggak semua cewek gampang dikadalin, gampang dibuayain.
Arian mukanya datar. Ini pose ganteng yang ketiga, which is pose yang selalu dia tampilkan di manapun dan kapanpun. Ekspresi kayak gini yang bikin dia nggak gampang ketebak sama cewek manapun, mungkin juga Raiya.
“Sorry ya, jadi ganggu jalan-jalan kamu sama Sera.” Arian kembali mengalihkan pembicaraan.
“Ngga papa, Yan. Aku juga nggak mau kamu nggak lulus Kalkulus lagi…” Kata Raiya.
“Emang lo pada mau belajar kalkulus?” Tanya saya yang diam-diam bersyukur saya nggak pernah dapet mata kuliah itu di Fakultas Ilmu Komunikasi yang saya pilih yang kebetulan satu universitas sama mereka berdua, Cuma beda fakultas aja.
“Iya Fina… we’re gonna talk bout calculus all day!” Kata Arian. “Iya tapi nggak di sini, gue balik lagi ke kampus, lo mo ikut?”
“Enggak ah, gue masih mau di sini.”
“Yaudah deh… lo bawa mobil
kan
?”
“Yup!”
“Benar nggak mau bareng kita, Fin?”
“Bener. Lagian gue bawa mobil juga.” Kata saya seraya tersenyum ramah pada Raiya meskipun sebenarnya saya ingin sekali hang out sama mereka. Untuk pertama kalinya Arian memperkenalkannya pada perempuannya yang sangat friendly, casual, simple, not glamour, not fashionable and clever enough (she will teach him calculus!).
Mereka pun pergi dari hadapan saya. Arian tidak menggandeng tangannya saat berjalan bersamanya. Biasanya paling tidak ia menggandeng tangan perempuan di sampingnya, atau bahkan merangkulnya. Ia sengaja begitu untuk menunjukkan bahwa perempuan yang berjalan di sebelahnya adalah perempuannya. Itu pula pertanda Raiya bukan perempuan yang kegatelan dan kegeeran yang biasa dibawa Arian.
Mungkin saja Arian benar-benar ditolak dan perempuan itu nggak officially Arian’s girl, atau mungkin perempuan itu masih milik orang lain. Ah, tapi Arian bukan sekali dua kali nikung cewek orang. Kali ini mungkin Arian bakalan serius, di balik ekspresi datarnya, dan sikap sembunyi-sembunyinya sama saya.
Sial, saya baru tau setelah enam bulan mereka jalan bareng. She never respect me as a cupid! Dia emang jarang ngobrolin cewek sama saya, karena dia emang nggak pernah serius sama cewek manapun. Dia juga nggak pernah ngajak saya ke tempat dia seneng-seneng sama temen-temennya, sama
Taras
dan Welly. He’s my cousin, I know him well but we never had a time to get known each other. Arian dekat sama saya Cuma sampai sebatas tanggung jawab, maksudnya tanggung jawabnya sebagai sepupu saya yang wajib nganggep saya sepupunya dan jagain saya. Uhmn… in fact,… I don’t really know him…!
Raiya Rasyidin.
“Rai…” Arian lagi-lagi mencegah saya turun dari mobilnya. Dia pegang lengan saya, ketika saya akan membuka pintu mobilnya. Situasi ini yang paling saya hindari, situasi di mana dia bakalan ngomong serius tentang hubungan yang nggak jelas ini. Sebenarnya saya sedikit takut karena Arian memang bad temper, cepet marah, egois, membuat semua orang selalu menurutinya. Itu mungkin karena ia terbiasa dengan semua orang di sekelilingnya yang selalu menuruti keinginannya, dan terbiasa dengan semua yang berjalan sesuai keinginannya. Oh… do I know him well?
Dia bukan pacar saya, tapi sering marah kalo saya jalan sama Bang Akmal anak 2002 yang sering bantuin praktikum Jaringan Komputer saya. Dia bilang dia juga bisa bantuin saya bikin PC router pake ubuntu, yang nilainya pasti lebih bagus daripada pake Windows Server 2003 bikinan Bang Akmal.
Dia bukan pacar saya, tapi sering banget sms saya untuk sekedar bilang “take care…” atau menggunakan istilah “sayang…” tanpa izin saya terlebih dahulu.
Dia bukan pacar saya tapi sering bikin saya khawatir kalo dia Missing Grade gara-gara kebanyakan absent, atau dapet E karena nilai tugasnya nol.
Dia bukan pacar saya, tapi saya pengen banget liat dia sedikit care sama tugas kuliahnya atau sesekali nggak keluar malam sama temen-temennya.
“Udah malem, Yan… nggak enak sama Ibu.” Kata saya pake bawa-bawa nama Ibu. Tapi Ibu emang nggak suka kalo anaknya pulang kemaleman. Kecuali dulu, waktu saya masih sama Dirga karena Ibu percaya banget sama Dirga, saya juga percaya sama Dirga. Saking percayanya saya sampe nggak tau kalo Dirga selingkuh di
Bandung
. Ah, Dirga lagi.
Arian masih menatap saya.
“Besok kamu
kan
kuisnya jam delapan… aku nggak mau kamu…”
Arian memotong. “Justru aku nggak mau besok aku masih mikirin ini.”
“Yaudah makanya nggak usah dipikirin.” Saya enteng banget ngomongnya.
“Kamu tau
kan
apa yang mau aku omongin?”
Saya diam. Memang sudah ketebak kalo dia bakalan minta kepastian. Saya bukan fans kamu, Arian. Saya juga nggak berharap jadi salah satu groupies kamu. Tapi waktu kita sekelas Metode Berorientasi Objek semester lalu, sampai hari ini, kamu selalu bikin saya nyaman di deket kamu. Saya udah lama nggak pacaran sejak Dirga, mungkin karena terlalu sakit hati dan masih takut kecewa untuk memulai. Saya juga nggak ngerti kenapa kamu milih saya, saya juga nggak percaya banget sama kamu, karena kamu memang player, Arian.
“Aku nunggu kamu, Rai…” Kata Arian.
Saya jadi bertanya-tanya, saya perempuan keberapa yang dirayu seperti ini oleh Arian. Saya jadi ingat Harum, yang sampe hari ini belum bisa ngelupain Arian. Waktu itu saya belum kenal Arian. Harum Cuma jadian sebulan sama Arian, kata Harum Arian selingkuh. He slept with her after Welly’s birthday party. Sampe sekarang Harum nggak tau kalo saya sering jalan sama Arian, temen-temen saya juga nggak ada yang tau soal Arian. Saya nggak pernah cerita ke siapapun soal Arian.
Saya juga bingung sebenernya saya gimana. Saya nggak percaya sama Arian, saya nggak mau jadian sama mantannya Harum yang masih belom bisa dilepasin Harum, tapi dibalik semua itu saya nggak bisa nolak waktu Arian minta diajarin kalkulus 2, saya nyusul dia ke Rumah Sakit waktu dia jatuh dari motor, saya pulang sama dia sekitar tiga sampai empat kali seminggu, dia selalu cerita semua yang bikin dia kesel dan ketawa sama saya dan itu bikin saya masuk ke dalam dunianya. Tapi saya masih ragu-ragu, takut Arian nggak pernah berniat serius sama saya dan saya belum siap dikecewakan untuk kedua kali.
“Jangan ngomongin itu sekarang, Yan…” Akhirnya saya memutuskan demikian. Saya menunda lagi keputusan yang harusnya saya ambil. Kata Harum perempuan memang suka ditarik ulur kayak layangan. Saya terus teringat Harum, teringat untuk tidak disebut mt(makan temen) dengan cara jadian sama mantannya temen baik saya.
Saya mendengar Arian menghela napasnya. Ia menatap lurus ke depan seperti pasrah dengan apa yang saya katakan dan tidak lagi berkata apa-apa. Arian tahu Harum teman saya, tapi mungkin ia tidak pernah tahu kalau saya bener-bener nggak enak kalo sampe Harum tau saya sering jalan sama Arian. Yang dia tau, saya nggak pernah percaya sama dia, dan saya bener-bener hati-hati sama dia, hati-hati menjaga perasaan saya.
“Kamu tau Harum
kan
?” Tanya saya sambil menatapinya.
Ia kembali menatapi saya dengan hanya menolehkan wajahnya pada saya. “Harum… temen kamu.”
“Mantan kamu
kan
?”
“Iya. Terus?”
“Aku nggak enak sama Harum…”
“Rai aku
kan
udah nggak sama dia lagi…”
“Dia masih saying sama kamu.”
“Ya itu bukan urusan kamu.” Suara Arian mulai meninggi, saya lumayan kaget. “Kalo itu alas an kamu…”
“Bukan Cuma itu, Rian!” Potong saya. “Saya nggak mau main-main!”
“Ya emang siapa yang mau main-main sama kamu!” Arian mulai tidak sabar, saya belum pernah lihat ia seperti ini. Apa acting marah-marah kayak gini juga bagian dari rayuan gombalnya? Apa saat ngerayu perempuan dia bawa-bawa habit bad tempernya itu? “Apa kamu mau aku nikahin sekalian?” Senekat itukan Arian sama perempuan yang baru ia kenal 6 bulan? “Kamu mau dilamar sekalian?” Arian menatapi saya dengan wajah tegangnya.
“Kamu apaan sih?”
“Tuh sekarang siapa yang nggak serius?” Arian bernada seperti mengomel.
Saya menghela napas. “Kasih saya waktu buat nilai kamu serius apa engga, dan kasih saya waktu buat ngejelasin ke Harum, kalo kamu nggak mau tinggalin aja saya!” Kata saya pelan. “Kasih saya waktu juga buat percaya sama kamu, Arian. Mungkin kamu emang nggak seburuk pikiran saya.”
Arian diam.
“Arian… aku nggak mau ngajarin kamu kalkulus 2 kalo kamu ngulang lagi… kamu pulang ya… Besok jangan kesiangan.”
Arian mengangguk.
Sampai kapan? Sampa kapan dia mau digantungin kayak gini? Sampai kapan dia mau nunggu? Cowok mana yang bisa tahan nunggu lama-lama? Diam-diam saya juga khawatir dia lelah nunggu saya. Saya takut ini terakhir dia ngomong karena dia udah capek.
Saya lalu turun dari mobil dan meninggalkannya tanpa sedikit senyum.
Arian menyenandungkan Lolita-nya the milo, sembari melihat punggung si gadis yang perlahan menghilang di balik pagar rumahnya…
Arian Amaruli and Fina Amaruli.
“Rian…” Fina masuk ke kamar Arian tanpa permisi. Fina memang tinggal di rumah Mulia Amaruli, bersama Arian dan harusnya bersama seorang laki-laki Amaruli lagi yang sedang bersekolah di luar negri.
Orangtua Fina tinggal di Singapur. Fina adalah anak tunggal Hutomo Amaruli, adik Mulia Amaruli. Fina memang mencintai
Jakarta
lebih daripada Prada, maka ketika lima tahun lalu Hutomo sekeluarga memutuskan pindah ke Singapur untuk mengurus salah satu anak perusahaan Amaruli di sana, Fina meminta tetao tinggal di Jakarta. Hutomo pun mengizinkan asalkan ia tinggal bersama Mulia.
Fina duduk di sisi tempat tidur Rian sementara Arian sibuk di depan meja belajarnya, mengerjakan sesuatu dengan kertas dan pensilnya, dan buku kalkulus tebalnya. Fina menyalakan televisi dan menonton MTV, ia mengeraskan suara televisi ketika melihat Fergie di TV.
“Arian… lo belajar apa?” Tanya Fina ketika sadar abang sepupunya sedang sibuk di depan meja belajarnya.
“Besok gue kuis…”
“Yah… padahal gue mau denger ceritalo tentang Raiya and kisah hts lo sama dia…” Fina kecewa.
“Cerita apaan lagi?” Arian tidak sedikitpun menatap adik sepupunya, ia menatap lembaran kertas yang dipenuhi angka, tanda akar kuadrat, symbol plus minus, serta symbol bilangan tak hingga.
“Gue tuh Cuma bingung, Yan. Perempuan kayak apa yang bisa bikin lo berubah kayak gini. We all know that you are a jerk!”
“I was!” Kata Arian membela diri. Ia memutar kursinya hingga menatap Fina. “That’s why she never trusts me, and trusts this relationship.”
“Arian denger ya… she’s an extraordinary girl…Mimpi aja lo bisa dapetin dia!”Fina kejam.
Arian merespon datar. Ia lalu berkata “2 bulan gue ditarik ulur kayak gini…”
“Nah…
kan
… baru tau rasa!” Kata Fina. “Kalo dia cewek bener, dia nggak bakal percaya sama elo!”
“Dia emang nggak percaya sama gue, berarti dia cewek bener dong?” Arian berkata seenak
peru
tnya.
“Ya… dan masalahnya cewek bener nggak ada yang mau sama lo! Good girl for the good boy! And you don’t deserve her!”
“Sentimen lo!” Arian memutar kembali kursinya dan tidak lagi memperdulikan Fina yang asik nonton tv di kamarnya. Ia menatap bilangan-bilangan di hadapannya. Ia masih belum bisa memecahkan satu masalah persamaan. Belum lagi, percakapan sore tadi masih membekas di kepalanya. Kemudian tangannya bergerak mengikuti laju otaknya, menuliskan symbol untuk bilangan tak hingga di kertasnya berulang kali. ~.
Entah kenapa ia suka sekali menulis symbol itu, seperti garis lurus yang kemudian menjadi bengkok, melentur ke atas dan ke bawah. Seperti jalan yang berkelok halus ke kiri dan ke kanan. Simbol yang sangat lentur dan tidak lurus, tidak pula terlalu bengkok, tidak bengkok dengan tajam, hanya lentur. Mungkin itulah makna symbol tak hingga, entah di mana ada kepastian nilai bilangan itu. Tidak lurus dengan tegas, tidak pula bengkok dengan tegas.
Seperti hidup dan ambiguitasnya. Seperti cinta dan definisinya. Seperti banyak hal yang di luar jangkauan manusia seperti kita.
to be continued…