….
"…We all know that you are a jerk!”
“Ya… dan masalahnya cewek bener nggak ada yang mau sama lo! Good girl for the good boy! And you don’t deserve her!”
"…Good girl for the good boy! And you don’t deserve her!”
……….
Two
Arian membuat sebuah teori tentang Raiya dan membeberkannya di depan
Taras
“Raiya adalah perpaduan taste gloomy-nya Sigur Ros dan Radiohead, which is a synonym for perfect!”
Nobody knows it that you have a secret smile
that you use it only for me
So use it and prove it
remove this whirling sadness
I’m losing I’m bluesing
but you can save me from madness
-SEMISONIC-
Raiya Rasyidin
“Lo sekelas Pengolahan Citra sama dia kan?” Pertanyaan Dian membuat saya hampir tersedak es kelapa terlalu frontal untuk perempuan yang sensitive sama vocabulary Arian seperti saya.
“Iya kenapa?” Kenapa lo harus Tanya tentang Arian? Kita nggak jadian, kok. Saya belum berniat mengecewakan kalian semua, bahkan mengkhianati Harum.
“Arian emang nggak pernah nanyain kabar Harum?” Tanya Dian pada Raiya. Dian, one of my friends with long hair… cantik, pintar, tapi terlalu banyak masuk ke dalam masalah yang sebenarnya dia tidak perlu terlibat. Di balik semua itu dia setia kawan dan nggak pernah ngecewain teman-temannya.
“Enggak.” Saya nggak mau terlalu banyak ngomongin Arian di depan mereka. Sera, Dian dan Harum selalu membicarakan Arian. Mereka bener-bener nggak rela kalo Harum disakitin sama Arian, especially Dian. Sera terlalu naïf dan tipe orang yang nggak terlalu banyak ngelawan. She just broke up with her boyfriend.
“Rai… lo pernah nggak nanya-nanya tentang Harum ke Arian?” Tanya Dian.
“Enggak.” Kata saya lagi.
“Masak sih Arian nggak pernah nanyain gue? Kalo gue sms dia masih jawab kok, Rai!” Kata Harum.
Sera lalu berkata. “Yaudahlah… lo kemaren bilang cowok masih banyak, bukan Cuma Arian aja, bukan Cuma Dimas. Rum, lo tuh cantik… kalo Arian aja lo bisa dapet masak yang laen nggak bisa.” Sera selalu seperti itu, sangat pemaaf walaupun dalam hatinya sakit. Selalu menghindari konflik, selalu menerima saja semua yang terjadi pada dirinya.
“Sera lo nggak ngerti, nggak ada yang bisa ngegantiin Arian!” Harum mencoba supaya Sera lebih mengerti kalo nggak ada yang bisa gantiin Arian. Harum sudah mengatakannya sejak ia putus dengan Arian berbulan-bulan yang lalu.
“Yaudahlah, Rum!” Saya mulai bicara. Saya mulai nggak tahan kalo mereka terlalu banyak ngomongin Arian, antara rasa bersalah dan muak. “Arian juga belom tentu mikirin lo!” Kayaknya saya agak kasar, tapi emang itu yang terjadi, tidak sedikitpun Arian mikirin Harum. Semalam pun dia bilang itu bukan urusan saya kalo Harum masih saying sama dia.
Tiba-tiba handphone saya bunyi.
“Rai… aku udah kelar?” Arian!
Saya exited, menunggu kabar kuis-nya Arian. “Gimana?” Mendadak saya lupa kalo lagi ada diantara Sera, Harum dan Dian. Saya exited denger suara Arian. “Bisa nggak?” Saya harap-harap cemas sama kuis kalkulus2 nya Arian.
“Alhamdulillah bisa.” Kata Arian. “Makasih banget ya, Rai… semua yang kamu jelasin ke aku tuh keluar… terus tadi Pak Anas ngebahas kuisnya, kamu tau ngga jawaban aku bener Rai!” Arian kedengeran exited banget untuk certain kuis kalkulusnya hari ini.
“I’m glad to hear that!” Seru saya. Saya tiba-tiba sadar mereka menatapi saya, menatapi exited-nya saya dengan suara di seberang sana.
“Aku pengen ketemu kamu, nih… kamu di mana?”
Otak saya mulai balik ke temen-temen saya. Saya coba menyadarkan diri sendiri saya sedang berada di dekat Harum yang masih berharap sama Arian sementara Ariannya lagi telpon saya.“E… aku lagi sama Sera, Harum, Dian gitu… di kantin belakang.” Saya memberi isyarat agar dia mengalah. Seperti ia mengalah ketika saya memilih pulang bareng mereka daripada dianterin Arian, seperti ia mengalah ketika saya minta tidak muncul dan menegur saya ketika saya sedang bersama mereka.
“Oh…” Ia terdengar kecewa. “Nanti mau pulang bareng aku?”
“Ya… nggak tau juga… I’ll call you.”
“Yaudah…” Arian langsung menutup telpon. Dugaan saya ia sedikit kesal, sejak semalam ia kesal.
Saya sedikit merasa bersalah.
“Siapa, Rai?” Tanya Dian.
“Temen gue…”
“Anak sini ya? Kok kenal sama kita?”
“Ya… gue certain elo semua… soalnya kan gue sering bareng lo ke mana-mana.” Jelas saya yang mulai bingung.
“Rai… lo punya cowok?” Selidik Dian.
“Hah? Enggak kok!” Bantah saya.
“Ya ampun, bilang aja lagi, Rai… kita juga nggak bakal marah kalo lo punya cowok. Lagian lo udah lama nggak pacaran… sampe kapan coba lo mau sendirian, anak seangkatan kita aja udah ada yang married.” Jelas Harum.
“Enggak kok. Temen doing…” Iya, Cuma teman, walaupun kita berharap lebih. Tapi jangan khawatir, itu Cuma harapan dan saya nggak mau ada tulisan ‘MT’ di jidat saya.
“Tapi kayaknya lo deket deh… Rai kalo lo suka bilang aja… cerita aja ke kita kenapa sih!” Dian nggak mau salah satu diantara kita menyimpan rahasia yang seharusnya menjadi konsumsi komunitas ini.
“Iya temen deket gitu. Cuma gue lagi nggak mau pacaran.”
“Kenapa? Gara-gara mantanlo itu? Dirga ya?”
“Ya… nggak juga sih, Cuma gue maunya serius… Cuma nggak tau deh dianya…” Okay… itu
kan
yang elo semua mau tau? Saya selalu mau serius untuk setiap hubungan, tapi reputasi Arian, juga kalian tentunya, menghalangi saya untuk membuat sebuah hubungan serius dengannya.
“Ya ampun Rai, jalanin aja kali. Gue juga waktu pacaran sama Arian niatnya serius…” Lagi-lagi Arian disebut. Saya juga gitu, kalo saya pacaran sama Arian saya pasti niatnya serius, tapi apa Arian bisa serius? Harum aja sampe digituin? He can plays any girl tapi bukan saya.
“Rum… udah deh… jangan Arian lagi!” Sera juga kayaknya udah gerah denger nama itu. Mungkin aja ia keinget mantannya.
“Gimana nggak diomongin, orangnya ada di sini…” Dian menatapi kea rah pintu kantin. Saya menoleh ke belakang, Arian baru masuk ke kantin bersama
Taras
temen seangkatannya. Arian sempat menoleh kea rah mereka namun wajahnya datar, tidak tersenyum sedikitpun. Ia kemudian duduk di meja yang kosong yang ada di belakang Dian dan Harum. Sera dan Saya yang duduk di hadapan mereka masih dapat menatap Arian. Harum dan Dian yang duduk di hadapan saya tidak bisa melihat ke arah Arian.
Saya lalu buka sms, dan mengetik sebuah message untuk Arian.
Yan… kamu ngapain sih di sini?
Sent
Raiya saying… ini
kan
kantin jurusan kita… I need to eat something.
Sender : Ar
Sengaja mau ketemu kamu. Anggap aja aku one of your groupies
Sender : Ar.
I don’t have any groupies. Kamu tuh seneng banget bikin aku deg-degan.
Sent.
Heartbeat is the way I communicate with you, honey. That’s the way you understand how bad I need your existentcy.
Sender : Ar.
Saya nggak balas sms itu lagi. Dia seneng banget ngeledek saya kayak gini, liat muka saya sedikit pucat karena kena masalah atau taking too much risk kayak gini. Saya bukan orang yang senang mengambil resiko besar, sementara dia sudah menjadi masalah besar untuk saya.
Tanpa saya sadar, Harum sudah ada di samping saya. Dia pindah supaya bisa ngeliatin Arian. Saya makin nggak tega sama Harum. Segitunya Rum supaya lo Cuma bisa ngeliat dia dari jauh! Sementara gue bisa kapan aja telpon dia atau bahkan minta ditelpon, gue bisa kapan aja minta dia dating bahkan sebelom gue minta, gue bisa pulang bareng sama dia kapan aja gue mau.
“Rai… dia tuh masih mikirn gue!” Rum… lo menyiksa pikiran gue, menyiksa semua organ-organ tubuh gue…
Saya kemudian metapi ke arah Arian, ia memang sedang menatap ke arah kami, tapi dia bukan menatapi Harum. Ia menatap saya sesekali, ketika ia sedang ngobrol bareng
Taras
.
“
Taras
ke sini!” Harum langsung pura-pura nggak ngeliatin Arian.
Ia tersenyum pada saya, menghampiri saya. Apa ini bagian dari scenario Arian buat sengaja ngerjain saya dan bikin saya deg-degan?
Taras
adalah teman baik Arian yang sering banget keliatan sama Arian. Kadang-kadang kita sering juga pergi bertiga.
“Rai… ada tugas Pengolahan Citra ya?” Tanya Taras.
“Iya…”
“Lo udah ada kelompok?”
“Belom, gue juga belom bikin apa-apa.”
“Gini, Rai… gue sama Arian belom dapet kelompok. Kita gabung aja mau ngga? Soalnya gue sama Arian nggak begitu ngerti mata kuliah ini.”
Taras
tersenyum nakal. Lo juga ikutan Ras dalam tingkah nakalnya Arian ini? Ariang sengaja.
“Raiya lo gabung aja sama mereka!” Harum semangat banget, pasti dia ada maksdu di balik dorongannya.
Taras
hanya tersenyum mendengar perkataan Harum. Saya yakin
Taras
tahu sesuatu, apalagi dia teman dekat Arian, pasti Arian cerita. Iyalah, Cuma Taras yang bisa dicurhatin Arian dan Cuma Arian yang bisa dicurhatin
Taras
.
“Yaudah… kita bikin bareng aja.” I give up. Saya nggak bisa nolak, menghindar dan lari dari kenyataan kalo saya juga… suka…? Saya nggak bisa nolak untuk nggak satu kelompok sama mereka.
“Yaudah, ntar kabar-kabarin kita ya kalo mau mulai bikin tugasnya. You’re the leader!” Iyalah saya leader-nya. Taras sama Arian paling males coding program, kalo nggak terpaksa mereka nggak bakal mau ngulik syntax java walau sebenernya mereka bisa.
Saya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
Taras
lalu kembali ke bangkunya.
Harum berkata sangat serius. “Rai… lo harus Bantu gue deket sama Arian lagi!”
Damn!
He’s smiling to me…
Detak jantung kita nggak sinkron… maybe that’s why I have difficulty to communicate with you…
sent
Senyumnya perlahan memudar ketika membaca sms saya.
Just Believe in me that you want me too
I’ll never let somebody close to you
Just promise me that you never let me down
Love me ‘till the end of time
-THE
ADAMS-
Raiya Rasyidin
Usai kuliah Sistem Keamanan Komputer, Arian ada di depan kelas saya. Kebetulan, mata kuliah itu saya sekelas sama Taras. Arian nunggu saya dan Taras selesai kuliah sambil.
“Arian…” Saya gemes liat Arian yang terkekeh-kekeh ketika ngebahas cerita Kantin siang tadi.
Kita bertiga ke parkiran. Saya dan Arian jalan di depan,
Taras
di belakang. Kita bertiga mau sama-sama ke Roxy beli casing hard disk saya yang rusak. Waktu saya nanya-nanya tentang harga casing hard disk, dia malah nawarin diri untuk nganterin saya, mana bisa saya nolak kalau dia selalu bikin saya nyaman tiap kali pergi bareng.
Dia bilang dia mau nganterin saya supaya saya tau dan ngerti masalah hardware berhubung saya ambil konsentrasi Rekayasa Perangkat Lunak yang banyak berkutat di pemrograman dan software sedangkan Arian dan
Taras
ngambil konsentrasi Jaringan Komputer. Arian memang lebih paham masalah hardware ketimbang saya. Masalah utama yang ia hadapi sehingga ipknya nggak nyampe 2,5 Cuma malas dan godaan dunia hedonisme yang ia tempati yang membuat Embassy (yang Alhamdulillah sekarang udah nggak ada) lebih menarik ketimbang kampusnya sendiri. Akhirnya, sekarang dia banyak ngulang mata kuliah yang jelek-jelek.
“Gara-gara kamu tuh Harum jadi nyuruh aku bantuin dia supaya deket lagi sama kamu…” Saya ngomel pelan. Arian sampai harus mendekatkan telinganya sambil berjalan mensejajari langkah saya.
Ini keluh kesah saya yang sejujurnya, supaya dia mau ngerti sedikit aja kalo posisi saya sulit banget untuk nerima dia. Jalan sama dia pun harus nunggu sepi, paling enggak setelah jam empat saya baru bisa keliaran di kampus sama dia. Jam segitu, Harum, Dian dan Sera sudah pulang karena menghindari macet jam lima. Sementara, Arian membuat saya seringkali terjebak macet bersamanya.
“Terus kamu mau aku deket sama dia lagi?” Arian berbicara agak serius. “Kamu maunya apa sih?” Arian menggerutu begitu saja. Gerutuannya itu entah kenapa bikin saya kesel, bikin saya ngerasa dia terlalu egois untuk bisa menahan dirinya, dan sangat egois untuk mengerti situasi saya. Mungkin menurut dia ini masalah kecil yang bisa dibawa bercanda.
Saya berhenti.
Taras
jadi menghentikan langkahnya, Arian berhenti dua langkah di depan saya, menatapi saya sambil memicingkan matanya karena mata hari sore yang menyilaukan matanya.
“Kenapa?” Tanya Arian. “Marah?” Ia berkata seolah saya tidak boleh marah.
“Arian,” Saya akan menyebut namanya lengkap ‘Arian’ bukan Ian atau Rian ketika saya sedang marah padanya. He knows that. “… aku
kan
pernah bilang sama kamu, biar aku urusin masalah aku sama Harum… itupun kalo kamu mau nunggu. Kalo kamu nggak mau nunggu kayak gini nggak ngomong kayak gitu! Tinggalin aja aku!”
“Ya aku bingung sama kamu…” Arian balas dengan nada suara yang lebih tinggi dari saya.
“Woi…!”
Taras
menyela. “Udah berantemnya di mobil aja!”
Taras
merangkul Arian, matanya mengisyaratkan saya untuk menyudahi perkelahian ini. Kami berdua masih bertatapan penuh ketegangan. Tidak disangka satu kalimat di mulutnya bikin saya nggak tahan lagi untuk nunjukin ke Arian kalo saya udah depresi dengan ego-nya.
“Nggak usah! Aku pulang sendiri!” I left him.
Arian dan
Taras
on the way to
Roxy Square
.
“Hard disknya Raiya kayak punya lo
kan
?” Tanya Taras meyakinkan sekaligus memulai pembicaraan mereka. Sejak tadi Arian diam saja,
Taras
gerah didiamkan seperti ini, seolah Arian lagi ngambek sama dia.
“Iya.” Kata Arian pendek, tidak sependek lagu parachutesnya coldplay yang Cuma segitu doing.
Taras
menghela napas. “Lo sabar dikit kenapa sih sama Raiya. Kalo kayak gini, ujung-ujungnya lo juga yang capek!”
Taras
mulai ngomel ngeliat kelakuan temannya yang selalu nggak sabaran ngadepin Raiya. Jelas aja, untuk pertama kalinya dia harus mengejar perempuan karena pada umumnya, Arian yang selalu dikejar perempuan. Untuk pertama kalinya ia bersusah payah demi perempuan, biasanya ia akan mendapatkan perempuan manapun yang ia suka. Tapi tidak Raiya!
“Ya lo liat
kan
Raiya… gue sabar nunggu dia, tapi ampe kapan? Gue nggak pernah kayak gini sama cewek, Cuma Raiya…”
“Iya gue tau!” Potong Taras. “ Dia nggak percaya sama lo.”
Taras
menjelaskan dengan entengnya, tanpa peduli temannya akan sakit hati. Semua orang tau Arian.
“Gue udah nunjukin semuanya Ras!” Arian membela diri, memberitahu keseriusannya pada
Taras
, memberitahu sahabatnya bahwa ini bukan permainan terakhir karena permainannya bersama perempuan-perempuan telah berakhir sebelum Raiya.
“Lo juga sih emosional!”
Taras
berbicara dengan santai, tidak sesantai Arian. “You’re just too selfish to love her, Man! Sementara dia bukan cewek biasa yang mau ngikutin semua kemauanlo, bahkan dia belum tentu mau ngikutin semua cara lo untuk mencintai dia.”
“Ya lo juga pasti emosional kalo ngadepin cewek kayak dia.” Bela Arian.
“Nah… baru ngerasa
kan
lo saying sama orang!”
“Udah deh Ras, lo udah orang yang kesekian yang ngomong kayak gitu.”
“Yaudahlah… ntar gue bantuin ngomong sama Raiya… besok gue mo balikin buku SKKnya!”
Selalu ada yang bisa
Taras
lakukan untuk orang di sebelahnya. Begitujuga Arian, selalu ada yang bisa ia lakukan untuk
Taras
. Waktu Taras digebukin sama anak Teknik Gas Petrokimia (TGP), Arian langsung nyamperin itu anak. Penyebabnya Cuma gara-gara cewek, ceweknya anak TGP dipacarin sama
Taras
padahal
Taras
tau itu cewek punya cowok anak TGP.
Taras
sama Arian memang sama gilanya. Perbedaannya,
Taras
lebih sabar, lebih humble, mungkin itu yang bikin mereka selalu akur. Soalnya di dunia ini seimbang.
Ada
siang ada malam, ada hujan ada panas. Arian dan
Taras
ibaratnya kayak kepingan puzzle. Mereka cocok.
Taras
yang selalu mau ngikutin ego-nya Arian, Arian yang selalu mau ngedengerin
Taras
.
Taras
yang selalu mau aja diajak mabok sama Arian, Arian yang juga mau diajak
Taras
nemenin ikut training ESQ gara-gara
Taras
disuruh bokapnya. Kedua kegiatan itu ngabisin duit dengan jumlah yang sama.
Love hurts… But sometimes it’s a good hurt
And it feels like I’m alive.
Love sings,When it transcends the bad things.
Have a heart and try me,
’cause without love I won’t survive.
-incubus,love hurts-
Raiya Rasyidin
“Rai… makasih ya!”
Taras
menaruh buku saya di meja kantin. Pas banget saya lagi sendirian, anak-anak belum keluar kuliah Bahasa Rakitan. Ia duduk di depan saya tanpa persetujuan saya. Saya tahu maksudnya, paling mau ngomongin si Arian. Kejadian kemaren udah bikin saya muak banget sama semua selfish-nya Arian.
“Mudah-mudahan si Arian nggak cemburu gue duduk sama lo…”
Taras
selalu ngeledek saya. “Arian nggak pernah cemburuan sama cewek-ceweknya, kecuali sama cewek yang dia saying.”
Taras
menjelaskannya lebih rinci.
Saya mencoba tidak perduli sama perkataannya, namun perkataannya membuat saya mencocokan dengan beberapa kejadian, termasuk kejadian Akmal 2002 nganterin saya ke perpus minjem buku Jaringan Komputer. Besoknya dia beliin saya buku Jarkom yang asli yang karangan Ferouzan. Ternyata dia bener-bener nggak suka kalo saya deket-deket sama orang lain.
Mba Asih dating dengan sepiring somay pesanan
Taras
.
“Somaynya, Ras…” Mba Asih nggak lupa cengar-cengir sama Taras. Arian-Taras memang pasangan cowok ganteng yang bikin Mba Asih cengar-cengir kalo mereka makan siang di kantin.
“Makasih, Mba Asih…”
Taras
nggak lupa senyum ramah. Ni anak beda banget sama Arian, kalo Arian pasti senyum-senyum nakal ngege-erin Mba Asih sampe Mba Asih nabok otot bisepnya. Kalo udah pake nabok, itu berarti Mba Asih emang lagi pengen megang-megang Arian. Arian tau mana cewek yang cari perhatian sama dia, mana yang engga. Kalo ketemu cewek yang lagi caper sama dia, dia bakalan bikin itu cewek ge-er setengah mati. Arian lagi… I talk too much about this man.
“Kok sendirian Rai?” Tanya Taras sambil ngaduk-ngaduk somaynya.
“Iya lagi nunggu anak-anak.” Saya emang lagi nunggu Sera, Harum sama Dian.
Ada
perubahan kronis yang terjadi semenjak saya sama Arian jalan bareng (jalan bareng adalah sebutan saya untuk hubunga tanpa status seperti ini) adalah pembagian waktu yang kronis antara teman-teman saya dan Arian (lebih tepatnya ego-nya Arian yang tidak bisa saya hindari). Pagi sampai siang menjelang sore adalah waktu saya untuk Dian, Harum dan Sera. Sore adalah waktu saya pribadi, maksudnya waktu pergantian dari Dian cs ke Arian. Biasanya saat itu saya ada di perpus, ngerjain tugas atau di lab, kadang-kadang sama anak-anak Lab, kadang Arian ikutan di situ. Sore sampe malam, tepatnya tidak melebihi jam delapan adalah waktu saya bersama Arian. Itu pun Arian udah nyolong-nyolong waktu siang saya dengan sering nyamperin saya ke kelas, ke lab atau ke tempat di mana saya berada.
“Arian saying sama lo.”
Taras
tiba-tiba bilang gitu kemudian menyuap somaynya. Saya udah tau, Ras. Arian udah tiga kali ngomong, terakhir semalem dia ngomong lagi.
“Tar, ngapain sih ngomongin Arian lagi… gue tau deh dia temen lo… tapi nggak usah ngebelain dia soal kemaren!” Saya lelah dengan nama Arian.
“Bukannya gitu, Rai…”
Taras
membela diri sambil senyum-senyum di atas kecemberutan saya. “Gue Cuma ngasitau aja… sebelom lo nyesel. Diantara sekian banyak cewek yang pernah ada di deketnya, Cuma elo yang diginiin. Arian berubah. Fina aja sampe bingung abang sepupunya rajin belajar, jadi jarang ngerokok, rajin solat lagi. Sebelomnya nggak pernah kayak gini. Kerjanya party-party sampe pagi sama anak-anak. Sekarang jarang mau dia diajak maen sama anak-anak. Biasanya
kan
gue pergi sama dia, sekarang gue jadi jarang pergi juga gara-gara dia males pergi…”
Saya juga tau Arian berubah, tapi nggak pernah tau kalo perubahananya segini besar. Rajin belajar, saya emang sering banget ngingetin dia belajar, terlebih pas UTS kemaren. Jarang ngerokok, saya memang pernah bilang nggak suka nyium bau rokok yang nempel di bajunya. Bau rokoknya bikin saya mual dan pusing. Rajin sholat, saya nggak pernah nyuruh dia sholat, tapi waktu saya lagi sama dia saya nggak pernah ninggalin sholat. Sering juga saya minta mampir ke masjid kalo udah waktunya sholat. Saya juga nggak tau kalo dia jarang pergi malem lagi sama temen-temen malamnya. Kenapa saya banyak nggak taunya!!!
“Nanti lo nyesel kalo lo terus-terusan nggak bisa percaya sama dia…”
Taras
ngomongnya serius banget. Walaupun sambil makan somay, matanya ngeliatin saya dengan tatapan tajam. “Kalo masalah Harum sih… emang Harumnya aja yang geer. Mereka nggak pernah jadian. Deket doing, trus sempet sering jalan bareng sama Arian sekitar sebulanan… Lo tau sendiri tau Arian emang suka deket sama cewek-cewek, tapi nggak ada yang bertahan lama.”
“Tapi Harum bilang mereka sempet…” Saya berhenti bicara. “She slept with him!” Saya berbisik. Saya sempet ragu-ragu buat ngomongin ini, mengingat Harum temen baik saya dan
Taras
sebenernya adalah orang luar di lingkarang pertemanan saya dengan mereka, tapi saya ngerasa
Taras
tahu masalah ini.
“Enggak, Rai!”
Taras
yang semula serius, berubah lumer. Ia sedikit tertawa. “Harum mabok, gue sama Arian nggak tau rumahnya di mana, yaudah kita buka kamar. Arian aja langsung tepar…”
Taras
tertawa lagi. Tawanya kalo ini agak ngeledek saya. Saya ngerasa dia lagi ngetawain saya yang terlalu polos untuk masalah kayak gini. Ras, I’m not part of your and your friend’s hedonism thought. “…kalo perlu lo suruh aja temenlo bikin visum, terus aduin ke LSM perempuan…”
Taras
menambahkan.
“Lo kok ngomong gitu sih?” Saya protes, seakan-akan
Taras
merendahkan Harum. Jujur, saya juga nggak suka liat Harum yang selalu siap memberikan seluruhnya untuk Arian. Kadang saya merasa ia terlalu bodoh sebagai perempuan.
Taras
tertawa. “Ya iyalah… temenlo mengada-ada sih!” Wajah Taras begitu percaya diri dan meyakinkan mengatakannya.
“Lo beneran?” Saya mulai tertarik untuk percaya semua pernyataan Arian.
“Raiya… lo kenapa sih nggak nanya langsung sama Arian?”
Taras
menanyakan sesuatu yang saya males jawabnya.
Saya diam. Saya emang nggak mau nanya langsung, takutnya bener. Kalo bener, saya pasti nggak mungkin jadian sama orang yang pernah tidur sama temen saya. Saya juga nggak mau nanya apa Arian pernah tidur sama perempuan apa enggak. Terus terang saya takut banget itu bener. I’m not part of his hedonism thought. Jadi jangan libatkan saya sama dunia kamu yang tidak pernah sederhana, Arian! Jangan libatkan saya ke dalam dunia kamu yang terlalu bebas.
“Arian emang brengsek, Rai. Tapi buat lo enggak…”
“Terus kenapa?” Saya menantang
Taras
. Apa yang kamu mau katakana lagi tentang Arian, Ras? Hal baik apa lagi dari dia yang mau kamu keluarin yang saya nggak pernah sadar? Apa lagi yang mau dibela dari Arian?
“People change… jadi jangan takut sakit hati.”
Taras
malah ngomong sesuatu yang bikin saya diam.
I dare the wrong person.
Love is real, real is love
Love is feeling, feeling love
Love is wanting to be loved
Love is you
You and me
Love is knowing
We can be
-love, JOHN LENNON-
Raiya Rasyidin
“Rai…” Arian duduk di samping Saya yang lagi duduk di depan salah satu monitor di Laboratorium Informatika Dasar. Laboratorium tempat praktikum pengenalan dasar pemrograman seperti Basic Java Programming dan Introduction to C++ Programming.
Hari itu, saya sengaja ke LID buat ngelanjutin bikin user interface buat tugas mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak saya yang belum kelar juga, sekaligus ngetes connection ke MySQL-nya. Kalo saya kerjain di rumah, pasti saya keburu kecapekan di jalan dan langsung menuju kasur. Tugas yang satu ini bikin saya susah tidur susah makan. Masalahnya, saya harus bikin database untuk satu kasus yang dikasih dosen saya. Terlebih, pengguna aplikasi database saya bakalan mau interface sebisa mungkin memudahkan user sehingga semua interaksi ke dalam table basis data harus dibuat lewat user interface yang mudah dimengerti. Singkatnya, user interface menyembunyikan kerumitan-kerumitan aplikasi database saya. It’s not easy.
Saya tahu Arian sedang melirik casing hard disk saya yang sudah baru, warnanya abu-abu. Kemarin Akmal memberikannya untuk saya. Sepulang saat saya bertengkar dengan Arian, Akmal memang mencegat saya di gerbang kampus dengan Jazz merahnya. Dia bilang dia mau ke arah rumah saya. Di jalan kita ngobrol-ngobrol sampe akhirnya saya cerita tentang casing hard disk saya yang rusak. Malamnya, dia dating ke rumah dengan casing hard disk baru. Saya mau ganti uangnya, dia nggak mau. Pasti Arian udah panas ngeliat saya udah punya casing hard disk baru. Itu salah satu pertanda kalo saya nggak terlalu butuh dia kalo sekedar buat beli casing hard disk.
Saya hanya menoleh sedikit ke arah Arian lalu kembali menatap layer computer, meng-klik tombol run di IDE Eclipse yang saya gunakan untuk menulis code proram java untuk aplikasi basis data saya. Aplikasi basis data saya kemudian muncul di tengah layer computer.
“Kamu udah beli hard disknya…” Arian mulai bicara, bikin saya nggak bisa mikir lagi, nggak focus lagi sama tugas RPL saya.
“Iya.” Saya emang lagi males ketemu dia, tapi saya harus nyelesaiin masalah saya sama dia. Saya sendiri masih belum bisa memutuskan untuk ikut nekat sama Arian atau menyelamatkan diri dengan pergi jauh dari hidup Arian.
“Kamu pergi sendiri?” Arian mulai nanya-nanya seluk beluk hard-disk 40 giga dengan casing baru yang ada lampu semacem LED biru kedip-kedipnya.
“Enggak, kok.” Saya membantah. “Akmal yang beliin.”
Arian sedikit kesal. Saya tahu. Ia kemudian menaruh bungkusan plastic di atas monitor. Bentuknya kotak sebesar tempat makan. Ya ampun… pasti Arian beli juga casing hard disk buat saya.
“Aku piker kamu suka yang warna hitam…” Arian nada suaranya pasrah. Saya memang pernah bilang kalo saya lebih suka punya barang-barang warna hitam dari mulai handphone, desktop, tempat pinsil, tas, kecuali barang-barang yang saya pake di badan. Karena untuk barang-barang yang jarang dicuci, hitam bakalan menyembunyikan kotornya. Saya nggak nyangka Arian tanggap banget.
Itu bikin saya berhenti mengetik, lalu bersandar di sandaran kursi. Saya menghela napas lelah saya. Saya berhenti dengan coding yang jauh dari sempurna di hadapan saya. Arian… saya merasa bersalah kali ini. Kenapa kamu segitu perhatiannya sama saya? Saya belum jadi siapa-siapa kamu, Yan!
“Aku yang salah, Rai!” Arian mulai bicara lagi, pasti soal kemarin. “Aku emang lagi nggak sabar sama kamu. Aku nggak mikir aku bakalan nyerah nunggu kamu.”
Apa, Yan? Kamu nggak bakal nyerah? Tapi aku juga nggak tau kapan ku bisa nerima kamu?
Sekarang.
Besok.
Bulan depan, atau bahkan nggak pernah!
Saya lalu memberikan sedikit rasa pesimis saya tentang hubungan ini padanya, agar ia tahu bagaimana pendeknya pikiran saya. “Kalo kamu nyerah juga nggak papa, kok Rian.”
“Jangan gitu dong, Rai!” Arian langsung memotong saya dengan nada khawatir.
“Yan…” Saya punya banyak alasan yang bikin saya menggantung Arian.“Kamu
kan
tau saya sama Harum temen baik banget…”
“Harum itu
kan
orang luar Rai… yang penting kamu percaya kalo aku nggak bakalan main-main sama kamu.” Arian begitu meyakinkan saya tentang keseriusannya.
Saya diam sebentar. “Saya percaya, Rian.” Sementara saya sebenarnya tidak benar-benar yakin kalau saya percaya bisa menjalani semua kemauannya. Yang ada di kepala saya, selama ini Arian memang nggak pernah kurang ajar sama saya atau tiba-tiba saya denger dia lagi jalan sama cewek lain. Arian juga nggak pernah ngajak saya clubbing, atau sekedar nemenin dia ke party-party gilanya seperti yang ia lakukan bersama cewek-cewek sebelum saya.
I know he’s so polite.
“Rai… be my girlfriend…!” Ngomongnya pelan banget, ia pun tidak memegang tangan saya atau kontak fisik apapun, Cuma ngeliatin saya penuh harap. Bukannya kontak fisik itu penting buat kamu, Yan? Penting buat kamu nyentuh perempuan karena itu gunanya perempuan buat kamu, Yan? How can I be so cynical to him? Dia baik, dia sopan, dia respect saya banget sejak saya ketemu sampai hari ini. Dia tahu saya paling ngga suka cowok yang dikit-dikit megang-megang. Dia tahu saya…
Okay you win, Arian! Kamu bisa mematahkan alasan saya masalah keseriusan. Tapi kalo soal Harum…
“Terus aku mesti ngomong apa sama temen-temen aku…”
“Mereka nggak perlu tau, Rai! Lagian ini tentang hidup aku sama hidup kamu. Ini pilihan kamu.” Arian mencoba mematahkan alasan kedua saya. Arian kemudian menambahkan, “Kalo kamu nggak bilang sama mereka, mereka nggak bakal tau…. Aku serius sama kamu!” Suaranya memelan ketika mengatakan ini.
Maksudnya, nggak bakalan terjadi apa-apa selama saya nggak cerita apapun sama mereka. Nggak bakalan terjadi apa-apa asalkan saya mau mengambil resiko sedikit saja untuk hubungan ini.
Arian, kamu mau membuat saya melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya lakukan karena ketidaksanggupan nyali saya, ketidaksanggupan jantung saya untuk berdetak lebih kencang dari biasanya, ketidaksanggupan hati saya untuk menyimpan ini rapat-rapat dari teman-teman baik saya dan ketidakmampuan saya untuk menjadi nekat seperti kamu.
Kalau kamu berikan sedikit saja nyali kamu untuk menguatkan saya,…
kalau kamu beri saja sedikit terapi detak jantung pada jantung saya agar ia sanggup bekerja lebih cepat dari biasanya,…
kalau kamu berikan sedikit saja ruang di hati kamu untuk tempat saya menyimpan semuanya hingga saya tidak perlu hati mereka untuk menampung keluh kesah saya,…
dan kalau kamu berikan sedikit saja kenekatan kamu untuk saya pelajari…
maka… saya tidak akan banyak berpikir lagi untuk menjadi satu-satunya perempuan kamu. Kamu sanggup, Yan?
Arian… saya tahu kamu sanggup.
Saya menghela napas. Mungkin ini memang saatnya saya tidak membuat Arian menunggu lagi, dan segera punya status sama hubungan yang nggak jelas ini. Kalo memang Arian bener-bener serius, untuk melihat itu resiko sakit hati sedikit tidak ada salahnya. Asal jangan sesakit dan sedalam Dirga.
“…asalkan…” Saya mulai bicara dan ia benar-benar menyimak. Ia sangat penasaran dengan jawaban yang sudah lama ia tunggu. “….asalkan kamu Cuma punya satu perempuan, dan asalkan kamu nggak pernah nyakitin Harum dan perempuan lain lagi…”
Ia menghela napas, lalu tersenyum sebentar. “I would never leave you…”
to be continued…
UPCOMING NEXT… Perisai Raiya, III
Three
Menurut Arian, existensi Raiya di muka bumi ini adalah untuk dihormati seperti perempuan terhormat. Don’t even think to touch her
…itu kalo nggak mau Arian ngamuk.
He never let somebody close to his girl!
…..Giliran saya.
Arian kemudian menghampiri saya, menatap saya, ia memegang lengan saya lalu berkata. “Kamu suka sama dia?”….