still about JIFFEST dan pengalaman gue nonton sendirian karena takut ngebetein orang… ya berhubung ini salah satu proyek pribadi gue hehe’
Jadi hari kamis tuh gue dah niat mau nonton DEATH IN GAZA. DEATH IN GAZA termasuk salah satu kategori house of docs kalo di jiffest, maksudnya termasuk film dokumenter.
Pertama gue baca resensinya, death in gaza itu adalah film dokumenter tentang kehidupan orang-orang di Gaza, anak-anak Gaza. The director is James Miller, a british Journalist, a housband, and a father. This movie is also about the death of James Miller while he was making this movie. James Miller ditembak sama tentara Israel.
Actually, James Miller wanted to make a film about children in Gaza, nggak heran yang kebanyakan di jadiin objek anak-anak Gaza dari yang umurnya 11, 12, 13, 14, atau 16 tahun. But he never made that kind of docs, karena sebelum filmnya diselesaikan dia ditembak di leher dan di kepala, padahal dia journalist.
As i told you, filmnya banyak bikin docs tentang anak-anak Gaza. Ada anak umur 12 tahun yang jadi mata-mata pejuang-pejuang palestine, ada anak umur 14 tahun yang syahid setelah ditembak sama Israel, dan ada anak perempuan 16 tahun yang bercita-cita jadi Lawyer. Seperti cerita-cerita yang gue denger, anak-anak Palestine punya sebukit keberanian sehingga mereka berani nimpukin tank-tank israel pake batu. Padahal mereka ngga punya amunisi, nggak punya senjata, they just have their own spirit dan Allah.
Kalo ditilik lagi, Palestine dah lama banget dijajah sama Israel. Orang-orang Palestine nggak pernah hidup tenang. Denga lingkungan yang seperti itu, nggak heran anak-anak Palestine punya keberanian yang begitu besar…
Kondisinya emang beda banget sama di sini.Disini gue bicara masalah spiritnya, bukan masalah Israel-Palestine.
Mereka berbuat, mereka melakukan sesuatu…
Lha kita… cuma bisa jadi konsumen… tapi belum bisa menghasilkan apa-apa, belum bisa banyak berusaha dan masih doyan disuapin…
Kapan kita bisa punya handphone buatan dalam negri?
kapan musik kita berhenti nyontek musik luar?
kapan kita punya departement store yang jual local cloth only?
kapan orang-orang berhenti usaha frenchise2an…?
kapan blues bisa masuk pasar?
kapan orang-orang berhenti ngopi di starbuck?
kapan kita berhenti diexploitasi?
kapan kita punya idealisme dan berhenti mikirin duit untuk sementara waktu? btw, indo khususnya Jakarta bukan tempat buat orang-orang yang idealis, ya?