Archive for September, 2006

megaPhone, DENGAN TANGAN TERKEPAL

Thursday, September 7th, 2006

Banyak hal-hal di luar tubuh manusia yang memprovokasi manusia untuk melakukan sesuatu, dari mulai hal yang gila sampai hal yang benar-benar lewat otak. Hal-hal yang sangat tidak rasional sampai yang rasional. Hal tersebut menekan manusia sampai di titik di mana ia harus bergerak atau mungkin terpaksa bergerak untuk melakukan sesuatu. Saya menyebutnya tekanan, yang membantu timbulnya sebuah motivasi untuk melakukan sesuatu. Tapi tekanan bukan motivasi, atau tujuan akhir. Ia hanya membantu suara hati manusia yang terhalang-halang oleh sebuah rasa takut. Ibaratnya, menjadi megaphone yang mengeraskan suara hati. Tapi sekali  lagi, tekanan bukan tujuan atau motivasi.

Lahirnya Kebangkitan Nasional pada zaman kolonial lahir sebagai sebuah perlawanan yang terbentuk secara terorganisir yang merupakan reaksi dari penjajah yang belum mau minggat juga. Begitu ada kesempatan, perlawanan tersebut memanfaatkannya pada saat yang tepat. Yaitu saat politik etis digembor-gemborkan, ketika kaum terpelajar muncul dan melakukan gerakan yang lebih terorganisir.

Ketika manusia tertekan, ia akan memanfaatkan segala peluang. Tujuannya yang pertama untuk bertahan, yang kedua untuk melawan. Tapi ketika tekanan sudah sampai di titik di mana manusia tidak mampu lagi bertahan, hanya ada dua pilihan: diam lalu hanyut atau meLAWAN.

Maka, manusia bernama pemuda memiliki moment di mana adrenalin mereka menyulut api di dalam diri, di mana mereka sanggup berdiri di mimbar-mimbar dan BERTERIAK LANTANG DENGAN TANGAN TERKEPAL bahkan memutuskan sudah saatnya melawan. Mereka juga memiliki moment untuk membanggakan Che, berbicara tentang Nietzhe, mendewakan Kurt Cobain, mendebat Einstein dan menurunkan Suharto.

Namun, mereka hanya manusia biasa, kadang bisa gentar walaupun tidak di garis depan, kadang merasa tidak perlu sedikitpun perduli. Karena mereka punya dua pilihan, diam atau ikut dalam permainan.

Maka, sebuah perlawanan lahir di bawah tekanan. Begitu banyak jalan, perlawanan adalah salah satu yang penuh kerikil tajam. Namun, ketika sistem sudah begitu menekan, untuk apa lagi diam, meskipun hanya sekedar ingin eksis di tengah perbedaan, atau ikhlas berbuat.