gender…?
Monday, August 14th, 2006saya kangen juga sama page ini… lama tak jumpa, tepatnya sejaK tak ada koneksi interNet 24 jam lagi… yang ada harus di diaL dengan rasa harap-harap cemas, mata sayu, mulut manyun dan tangan gemetar…(sangat hiperbolis!!!) nggak gitu-gitu banget, kok!
Saya udah baca epigram-nya Jamal. Bagus. Ngalir banget, meskipun karakternya ada yang bikin saya bingung tapi ceritanya bagus. Endingnya juga keren, dan yang penting berkesan, soalnya abis baca saya masih kebayang-bayang. Rasanya sama waktu saya baca 5cm dan Syahmedi Dean.
Dulu, sempet jamannya sastrawangi, mungkin sampe sekarang masih ya… jamannya Ayu Utami, NoRiYu, Djenar, Fira Basuki dan Dee. Saya pernah baca Dee, Fira, dan sedikit Djenar. Untuk Dee salut. Fira bagus tapi nggak mengesankan apa-apa. Djenar… makasih saya nggak begitu mengerti dengan cara berkomunikasinya. Nggak tau kenapa saya lebih ‘berasa’ waktu saya baca Syahmedi Dean, Dhonny Dhirgantoro, dan Jamal tentunya. Apa ini masalah gender? Atau Gender yang dibikin masalah?
Saya menganggap sastrawangi adalah sederetan nama perempuan-perempuan pintar. Memang mereka pintar. Tapi saya sih mikirnya kenapa harus ada sebutan sastrawangi, teenlit atau chicklit? It’s all about gender. Ketika seorang perempuan menulis buku apakah bukunya dikelompokkan dengan nama-nama yang berbau perempuan? Lalu siapa yang mempermasalahkan gender? Pengelompokkan -lit-lit itu?
CONFUSE…